Siapa sangka, barang bekas yang tidak dianggap oleh orang lain diubah Anwar, menjadi hasil karya seni dan bernilai tinggi. Bahkan satu buah hasil karya dari barang bekas, rata-rata dibanderol dengan harga jutaan rupiah.
YEDIDAH PAKONDO
Sejak tahun 2012 lalu Khairul Anwar (45) mengolah koran-koran lama atau bekas untuk dijadikan kerajinan tangan yang menarik. Warga Kelurahan Pantai Amal ini, sering kali menyulap koran tersebut menjadi kapal hingga bangunan-bangunan.
Kegiatan ini dia anggap hanyalah hobi yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah, yang tidak dijadikannya sebagai sumber penghasilan utamanya. Anwar sapaan akrabnya menuturkan, koran bisa dijadikan bahan kreasi yang kukuh itu, syaratnya harus dilinting terlebih dahulu.
Berbagai miniatur telah dia sulap dari koran menjadi hiasan yang apik seperti kapal perang, hiasan rumah adat Minangkabau, tempat tisu, hiasan dinding dan sebagainya. Meski berbahan dasar koran, bentuk dari hasil-hasil karyanya dibuat menyerupai aslinya.
Anwar menjelaskan, untuk satu rumah adat Minangkabau saja, dia membutuhkan 40 lembar koran. Awalnya, ia tak pernah kepikiran untuk membuat rumah adat Minangkabau. Namun, setelah anaknya mendapatkan tugas dari sekolah untuk membuat rumah adat dari bahan bekas, ia mencoba untuk mencari-cari rumah adat jenis apa yang akan ia buat. Nah, melalui rumah makan yang memiliki desain rumah adat Minangkabau yang ia lirik, membuat dirinya terpikir untuk membuat hiasan rumah tersebut.
Dalam menyelesaikan satu hiasan rumah Minangkabau, Anwar membutuhkan waktu sampai dua minggu, sebab ia hanya memiliki waktu malam hari untuk mengerjakan barang bekasnya.
“Saya harus lihat gambar, karena hasilnya harus mirip betul dengan aslinya. Tapi ada beberapa karya saya yang juga melalui imajinasi, seperti kapal,” bebernya.
Untuk menghasilkan sebuah karya yang baik, ia menggunakan bahan-bahan tambahan seperti kulit kerang dan pelepah pinang. Beruntungnya, setiap karya yang ia hasilkan tak pernah tinggal lama di rumahnya, sebab laku dijual. “Hasil karya saya tidak pernah lama di rumah. Sudah laku diambil orang semuanya,” ucapnya kemudian tertawa.
Keuletan dan kerajinannya mengolah barang bekas, kini ia tularkan ke anak-anak dan orang dewasa di lingkungan sekitarnya, yang ingin belajar untuk mengolah barang bekas.
Nah, untuk hasil kerajinan tangan yang ia hasilkan, paling murah seharga Rp 5 ribu, sedang hasil yang paling mahal mencapai Rp 3 juta, tergantung dari bahan baku dan cara membuat alat tersebut.
“Sampai sekarang sudah lebih dari Rp 10 juta yang saya dapat. Karena ini hanya iseng saja,” tuturnya.
Hingga kini Anwar mengaku belum puas, dia masih ingin membuat karya yang lebih baik dari yang ia buat selama ini. “Saya belum puas dengan hasil karya ini. Ke depannya saya akan membuat rumah adat Tidung,” tutur pria yang sering mengenakan topi tersebut. Rata-rata peminatnya biasanya dipakai untuk kebutuhan photography.
Anwar mengungkapkan, rencananya sebelum dia membuat miniatur rumah adat khas suku Tidung, terlebih dulu dia harus mengumpulkan bahan baku seperti koran bekas, kerang maupun pelepah pinang. (***/nri)
Editor : Azwar Halim