
TARAKAN - Harga kebutuhan pokok menjadi salah satu pertimbangan masyarakat dalam mengatur belanja rumah tangga. Ketika terdapat selisih harga, warga cenderung memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari dengan pengeluaran yang lebih rendah.
Hal tersebut terlihat dalam pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Pemerintah Kota Tarakan. Sejumlah warga memilih berbelanja di lokasi kegiatan setelah mengetahui harga komoditas yang ditawarkan lebih rendah dibandingkan harga yang biasa mereka temui di toko.
Salah satunya Muliati, warga RT 32, di mana ia mengaku awalnya hendak membeli kebutuhan rumah tangga di toko. Namun, saat melintas dan mengetahui adanya penjualan dengan harga lebih murah, ia memutuskan singgah.
“Ya, kebetulan lewat, aku singgah. Tadinya mau beli juga, kayak gula. Tapi kudengar ada murah di sini, jadi enggak jadi ke situ. Sini lah beli,” ujarnya, Rabu (16/9).
Muliati mengatakan, gula yang dibelinya dalam kegiatan tersebut ditawarkan sekitar Rp 16 ribu per kilogram. Sementara di toko, harga yang biasa ditemuinya sekitar Rp 20 ribu per kilogram. Selisih harga tersebut dinilai cukup membantu, terutama ketika kebutuhan rumah tangga harus dibeli secara rutin. Ia juga membeli minyak goreng untuk memenuhi kebutuhan memasak di rumah.
“Kalau biasanya harus mengeluarkan sekitar Rp 37 ribu, sedangkan dalam kegiatan GPM harganya sekitar Rp 28 ribu. Kalau dihitung ada selisih sekitar Rp 9 ribu,” jelasnya.
Meski mendapatkan harga yang lebih rendah, Muliati tidak lantas membeli dalam jumlah banyak. Ia memilih mengambil masing-masing satu sesuai kebutuhan dan kemampuan belanja. Menurutnya, belanja dari GPM tersebut setidaknya dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga selama beberapa hari. Gula digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk membuat kopi, sementara minyak goreng digunakan untuk memasak.
"Dalam sebulan, kebutuhan keluarga mencapai sekitar empat kilogram gula dan dua bungkus minyak goreng. Pengeluaran harus disesuaikan dengan kondisi pendapatan yang tidak selalu sama setiap bulan," katanya.
Muliati tinggal bersama suami, seorang anak dan menantu. Total terdapat empat orang dalam satu rumah. Suaminya bekerja di sektor tambak dengan penghasilan yang tidak tetap. “Bapaknya kerja-kerja tambak. Iya, ndak tahu (penghasilannya), tidak tentu,” pungkasnya. (zac/jnr)



