Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Berproses, Tarakan Bidik Hilirisasi Rumput Laut Tanpa Sisa

Z
Penulis: Zakaria RT❯

 


Advertisement

PAMERKAN: Kabid Budidaya Perikanan, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan DPKTarakan, Husna Ersant Dirgantara memperlihatkan pupuk hasil olahan dari limbah rumput
PAMERKAN: Kabid Budidaya Perikanan, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan DPKTarakan, Husna Ersant Dirgantara memperlihatkan pupuk hasil olahan dari limbah rumput

TARAKAN – Besarnya potensi rumput laut di Kota Tarakan membuat komoditi ini sempat diandalkan dalam mendokrak perekonomian masyarakat dan pendapatan daerah. Meski demikian, terus jatuhnya harga rumput laut membuat komoditi ini terus mengalami penurunan. Sehingga diperlukan terobosan pemerintah dalam membangkitkan antusias para petani rumput laut dalam meningkatkan penghasilannya.

Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan pada Dinas Perikanan (DPK) Tarakan, Husna Ersant Dirgantara menerangkan, saat ini Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan sedang mengupayakan hilirisasi rumput laut. Tidak tanggung-tanggung, bahkan bentuk hilirisasi tersebut sampai menjadikan limbah pengolahan menjadi rupiah untuk dijual.

Advertisement

"Kami mulai mengarah pada model industri tanpa limbah. Di tengah keterbatasan fasilitas pengolahan kimia di daerah, Dinas Perikanan membuka peluang kerja sama dengan investor yang siap menanamkan modal besar demi mengolah seluruh bagian rumput laut menjadi produk turunan bernilai ekonomi," ujarnya, Kamis (26/2).

Diakuinya, sebelumnya pemerintah ingin mengembangkan pengolahan rumput laut dalam bentuk chip. Hanya saja pengolahan tersebut sulit dilakukan lantaran membutuhkan proses kimia yang tidak sederhana. Sehingga kendala tersebut membuat pemerintah mencari alternatif lain.

“Kalau bentuk chip itu perlu pengolahan secara kimia, seperti penggunaan KOH dan bahan lainnya. Untuk menetralkannya juga harus menggunakan bahan kimia. Di Jawa itu sudah ada perusahaan yang memang khusus mengolah limbahnya. Kalau di sini belum ada,” katanya.

Advertisement

"Ketiadaan fasilitas pengolahan limbah kimia di Tarakan menjadi tantangan tersendiri. Kalau limbah harus dikirim ke luar daerah, biaya operasional akan membengkak, otomatis perlu biaya cukup besar. Investasinya juga tidak kecil. Waktu kami ke PT Belgi, investasi mereka hanya untuk pengolahan limbah saja sampai Rp 100 miliar,” sambungnya.

Meski demikian, peluang tetap terbuka. Husna menyebut ada perusahaan yang berencana membangun pabrik di Tarakan dengan konsep pengolahan berbeda, bukan dalam bentuk chip, melainkan produk turunan cair.

“Dia bukan chip. Dia dalam bentuk cairan. Jadi rumput laut itu dipres, diambil airnya. Airnya itu nanti diolah lagi,” jelasnya.

Menurutnya, cairan hasil perasan tersebut dapat diolah menjadi biofuel atau bahan bakar nabati. Sementara itu, ampas hasil perasan tidak dibuang begitu saja. Ampas dikeringkan, lalu dicacah menjadi pupuk organik yang dapat dimanfaatkan untuk sektor pertanian.

“Airnya itu untuk biofuel. Semacam biosolar, tapi ini dari rumput laut, bukan dari sawit. Ampasnya dijemur, setelah kering dicacah halus jadi pupuk organik. Itu bisa untuk sayuran dan pertanian. Jadi tidak ada yang terbuang,” terangnya.

Ia mencontohkan, model pengolahan seperti ini sudah berjalan di Bali. Rencananya, jika pabrik berdiri di Tarakan, produk tetap akan dikirim terlebih dahulu ke Bali sebelum diekspor. “Rencananya bangun pabrik di sini. Tapi untuk ekspor belum bisa langsung. Nanti dikirim dulu ke Bali, baru dari sana ekspor,” jelasnya.

Husna juga meluruskan perbedaan antara pengolahan menjadi tepung dan model pres cair tersebut. Menurutnya, jika dijadikan tepung, sari utama rumput laut sudah diambil pada tahap awal. “Kalau tepung, itu yang diambil sarinya. Sedangkan kalau sistem pres ini, setelah airnya diambil, sisanya memang ampas dan itu yang dijadikan pupuk,” katanya.

Terkait harga produk dan nilai ekonominya, Husna mengaku belum mengetahui secara rinci karena merupakan ranah perusahaan. Namun ia optimistis, hilirisasi tanpa limbah ini dapat memberi nilai tambah bagi petani rumput laut di Tarakan. Ia menambahkan, budidaya rumput laut di Tarakan telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir, setidaknya sejak 2020, dengan dinamika produksi yang terus dievaluasi pemerintah daerah.

"Dengan konsep industri terpadu tersebut, diharapkan Tarakan tidak hanya menjadi daerah penghasil bahan mentah, tetapi mampu bergerak ke arah pengolahan lanjutan yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi tinggi," pungkasnya. (zac/jnr)

Advertisement

Artikel Terkait

Dijanjikan Gaji Dilunasi 9 November, Buruh Intracawood Batal Mogok Kerja

Dijanjikan Gaji Dilunasi 9 November, Buruh Intracawood Batal Mogok Kerja

Ancaman mogok kerja ratusan buruh PT Intracawood Manufacturing yang dijadwalkan berlangsung Jumat (6/11) akhirnya tidak terealisasi. Pekerja

Hindari Konsekuensi Pidana, Status Tanah yang Didaftarkan ke BPN Tarakan Harus Jelas

Hindari Konsekuensi Pidana, Status Tanah yang Didaftarkan ke BPN Tarakan Harus Jelas

Kepastian status kepemilikan tanah di kawasan Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) PT Pertamina EP khususnya di RT 16 Kelurahan Kampung Satu Ski

Tindaklanjuti SE Kapolri, Penggunaan Vape oleh Personel Polres Tarakan Dilarang

Tindaklanjuti SE Kapolri, Penggunaan Vape oleh Personel Polres Tarakan Dilarang

Kebiasaan menggunakan rokok elektrik atau vape kini bisa berujung persoalan serius bagi anggota Polri di lingkungan Polres Tarakan. Tidak ha

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer