Maylenty Wempi Suarakan Semangat Membaca dari Wilayah Perbatasan ke Forum Nasional

JAKARTA – Semangat membangun budaya membaca dari wilayah perbatasan disuarakan Bunda Literasi Kabupaten Malinau, Ny. Maylenty Wempi, dalam gelar wicara nasional bertajuk “Cerita dari Perbatasan Indonesia di Malinau: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi” yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, pada Kamis (21/5) di Jakarta.
Kegiatan tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai praktik baik penguatan literasi di wilayah perbatasan, sekaligus memperlihatkan bagaimana kolaborasi berbagai pihak mampu membangun budaya membaca di tengah tantangan geografis dan keterbatasan akses.
Dalam forum nasional itu, Maylenty Wempi menegaskan bahwa literasi bukan hanya persoalan membaca dan menulis, melainkan harapan bagi masa depan generasi muda di wilayah perbatasan.
Baca Juga: Pemkab Malinau Hadiri Verifikasi Hutan Adat Dayak Abay, Nyatakan Siap Mengawal Penetapan
“Literasi adalah harapan tentang anak-anak di perbatasan yang berani bermimpi lebih tinggi, tentang keluarga yang mulai mencintai buku, dan tentang masyarakat yang percaya bahwa pendidikan bisa mengubah masa depan,” ujarnya penuh semangat, Kamis (21/5).
Ia mengatakan semangat literasi di Kabupaten Malinau terus didorong agar menjadi gerakan bersama yang hidup di tengah masyarakat dan mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Ikatan Keluarga Baca Malinau (IKBM) Belvi, pegiat literasi TBM Lasan Baca Zsa Zsa Suhartiningtyas, serta Kepala Desa Kuala Lapang Yeyen Meiasim yang selama ini aktif mendukung pengembangan literasi di daerah.
Diskusi juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun literasi yang berkelanjutan. Pemerintah, sekolah, keluarga, komunitas, desa, mitra pembangunan, hingga pegiat literasi dinilai memiliki peran penting dalam menumbuhkan budaya membaca di masyarakat.
Kabupaten Malinau dinilai berhasil menunjukkan bahwa keterbatasan wilayah perbatasan bukan menjadi hambatan, melainkan mampu melahirkan inovasi layanan literasi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menyebut kontribusi Kabupaten Malinau cukup signifikan dalam penguatan literasi di Kalimantan Utara.
“Kontribusi Malinau turut mendorong capaian indeks kegemaran membaca di Kalimantan Utara yang mencapai 58,89, melampaui rata-rata nasional sebesar 54,8, dan mencerminkan budaya baca yang semakin kuat,” katanya.



