Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Bulungan Kajian Ulang Data 2.800 Anak Tak Sekolah, Gandeng UGM untuk Verifikasi

Fijai RT • Kamis, 5 Maret 2026 | 04:43 WIB

BERI ARAHAN: Kepala Bappeda-Litbang Bulungan, Iwan Sugiyanta saat memberikan arahan dalam musrenbang anak.
BERI ARAHAN: Kepala Bappeda-Litbang Bulungan, Iwan Sugiyanta saat memberikan arahan dalam musrenbang anak.
TANJUNG SELOR - Pemerintah Kabupaten Bulungan tengah meninjau ulang data 2.800 anak yang tercatat sebagai angka tidak sekolah (ATS) menurut data pokok pendidikan (dapodik). Upaya ini bertujuan memastikan validitas data sekaligus mengidentifikasi akar permasalahan yang membuat anak tidak mengenyam pendidikan.

Kepala Bappeda-Litbang Kabupaten Bulungan, Iwan Sugiyanta, menegaskan, angka tersebut tidak serta-merta diterima sebagai kondisi riil di lapangan.

“Angka ini berdasar dapodik. Validitasnya perlu kami kaji. Tahun ini kami bekerja sama dengan UGM, statistik, sekolah dan kecamatan untuk mengidentifikasi kebenaran data tersebut sekaligus mencari simpul permasalahannya,” kata Iwan kepada Radar Kaltara, Rabu (4/3).

Pemkab Bulungan menggandeng Universitas Gadjah Mada untuk pendampingan akademik dalam verifikasi dan analisis data. Keterlibatan perguruan tinggi diharapkan menghasilkan kajian yang objektif dan komprehensif. “Pendekatannya harus berbasis data dan metodologi yang jelas, supaya kebijakan yang diambil nantinya tepat sasaran,” tegas Iwan.

Sejumlah faktor diduga menjadi penyebab tingginya angka ATS, antara lain pola asuh keluarga, kondisi ekonomi, dan pekerjaan orang tua yang mengharuskan berpindah-pindah lokasi.

“Ada orang tua yang bekerja sebagai peladang dengan lokasi ladang berpindah-pindah, bahkan lintas desa. Karena tidak ada yang menemani di rumah, anak dibawa. Bukan untuk dipekerjakan, tetapi akhirnya tidak sekolah dan itu berlangsung lama,” jelasnya.

Selain itu, motivasi anak juga menjadi tantangan tersendiri dalam upaya penuntasan wajib belajar. “Ada juga soal kemauan anak yang kadang malas sekolah. Ini juga menjadi bagian dari angka tersebut,” ungkapnya.

Kendala akses pendidikan di wilayah terpencil turut menjadi perhatian, meskipun pembangunan sarana dan prasarana telah dilakukan bertahap. Hasil kajian ini nantinya akan menjadi dasar penyusunan kebijakan lanjutan, baik untuk penanganan anak tidak sekolah maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Bulungan. “Kami ingin memastikan, apakah 2.800 itu benar-benar ATS atau ada persoalan administrasi dan pendataan. Dari situ baru bisa dirumuskan intervensi yang tepat,” pungkas Iwan. (jai/lim)

 

 

Editor : Azward Halim