Mulai dari wilayah perkotaan seperti di Kota Tarakan hingga ke wilayah perbatasan seperti di Krayan dan daerah lainnya. Untuk itu, perlu ada persiapan secara teknis untuk antisipasi terjadinya kondisi darurat.
Dikonfirmasi terkait hal itu, Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltara, Andi Amriampa menyampaikan bahwa pihaknya sudah mengusulkan jembatan bailey ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Kita ada rencana minta jembatan bailey (ke BNPB) untuk mengantisipasi adanya hal darurat terjadi di wilayah Kaltara, seperti jalan putus dan lain sebagainya," ujar Andi Amriampa kepada Radar Tarakan saat ditemui beberapa waktu lalu.
Jembatan bailey ini berupa jembatan rangka baja pra-fabrikasi yang bersifat portabel. Jadi keberadaannya bisa digunakan untuk kondisi-kondisi yang sifatnya darurat.
"Kan sifatnya darurat, jadi jembatan ini bisa ditempatkan di mana saja sesuai dengan kondisi di lapangan. Jadi setelah dibangun kembali yang permanen, maka jembatan bailey itu dicabut lagi.
"Jadi sifatnya mobile. Itu sudah ada pembicaraan di BNPB, kita minta dalam bentuk fisik. Tapi tiba-tiba terjadi bencana di Sumatera waktu itu, jd fokus lngsung ke sana," tuturnya.
Adapun yang diusulkan itu ada sekitar 15 jembatan. Hanya saja untuk saat ini ia pun belum dapat memastikan, apakah usulan disetujui atau sepeti apa.
"Kalau misalnya disetujui, itu pun kita belum tahu berapa jumlahnya. Kalau untuk panjang bentangnya itu pasti bervariasi. Jadi sekarang ini kita tunggu saja seperti apa dari pusat," pungkasnya. (iwk/lim)
Editor : Azward Halim