Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Ban Bekas Hebohkan Warga, Memangnya Kenapa ?

Muhammad Erwinsyah • Senin, 9 Juli 2018 | 09:32 WIB
ban-bekas-hebohkan-warga-memangnya-kenapa
ban-bekas-hebohkan-warga-memangnya-kenapa

TANJUNG SELOR – Aksi oknum masyarakat dengan sengaja membakar limbah ban bekas, tepat di pinggir Jalan Kilometer (Km) 12, Tanjung Selor sempat menghebohkan warga yang melintas di jalur tersebut, Sabtu (7/6).


Pasalnya, dari kejauhan asap tebal bewarna hitam dan kobaran api menjulang ke langit. Sehingga beberapa warga mengaku sempat ragu untuk melintasi jalur tersebut. Sebab, menurutnya udara di sekitar jalan tentu akan terasa panas kala dilintasi.


Namun, berdasarkan pantauan Radar Kaltara di lapangan. Tak sedikit juga warga yang penasaran dengan gumpalan asap tebal untuk mendekatinya. Bahkan, dengan menggunakan handphone (HP) pribadinya beberapa warga turut mengabadikan momen-momen asap dan kobaran api tersebut.


Rian (27) salah satu warga sekitar yang ditemui awak media di tempat kejadian perkara (TKP) mengatakan, munculnya asap dan api di lokasi tersebut sekira pukul 17.00 Wita. Ia tak mengetahui siapa oknum yang membakar. Hanya, saat itu ia sempat melihat seseorang duduk di sekitar ban bekas dan meninggalkannya. “Nah, tak lama setelah ditinggalkan itu api muncul begitu besar disertai asap tebal,” ungkapnya.


Dikatakannya juga, memang di lokasi tersebut beberapa kali dijadikan tempat pembakaran. Akan tetapi, untuk kejadian kali ini yakni kobaran api yang cukup besar menurutnya baru pertama. Dan itu pun tak membahayakan area sekitar lantaran jauh dari rumah warga. “Tapi, tidak tahu jelas juga. Saya tadi juga kaget saat melihat api sudah besar,” ucapnya.


Sementara, Dhino (25) salah seorang warga yang melintas mengaku cukup terkejut. Sebab, dari kejauhan asap begitu tebal. Dan hal itu sempat mengurungkannya untuk melintas. “Ya, tadi berhenti. Tapi, karena penasaran jadi pelan-pelan lihat langsung. Ternyata ban bekas yang dibakar,” ungkapnya.


Lanjutnya, sekalipun ban bekas menurutnya oknum warga tak seharusnya di lokasi terbuka melakukan pembakaran. Meskipun, tak membahayakan secara langsung kepada masyarakat yang melintas. Namun, akibat asap tersebut akan membahayakan dari segi kesehatan.


“Harapan saya jangan sampai ban bekas dibiarkan dibakar begitu saja dipinggir jalan. Asapnya ini di udara dan itu bisa mengganggu kesehatan,” terangnya.


Senada dikatakan Rika (23) warga lain yang melintas, Ia mengakui juga akibat munculnya api tersebut membuatnya merasa takut. Tapi, lagi-lagi karena ia akan segera hendak pulang ke rumah pasca berlibur sehingga ia nekat untuk melintasi dan sekadar berhenti sejenak. “Siapa yang tidak takut saat di depan lihat asap tebal. Saya kira tadi rumah atau lahan yang terbakar,” ungkapnya.


Ia berharap juga, pembakaran ban bekas tak sampai terjadi lagi. Sebab, dari aspek kesehatan juga akan memiliki dampak. Untuk itu, perlu adanya kesadaran akan berbahaya dalam membakar ban bekas. “Apalagi jalur ini kerap dilintasi masyarakat,” ucapnya.


Adapun, dikutip dari berbagai sumber bahwasannya membakar ban bekas akan berpengaruh pada kesehatan manusia dan kerusakan lingkungan. Sebab, ban bekas atau masih baru, terbuat dari karet yang didalamnya terdapat kandungan kimia Isobutene Isoprene Rubber.


Dan jika dibakar, maka pembakaran akan tidak sempurna dan menghasilkan gas karbon monoksida (CO). Itu ditandai dengan asap yang sangat hitam, dan gas karbon dioksida (CO2). Apabila gas CO terhisap melalui pernafasan, gas tersebut akan bereaksi dengan hemoglobin dalam darah.


Sehingga dapat menghambat transfer oksigen yang membahayakan kehidupan manusia. Dan diketahui gas CO2 merupakan salah satu gas rumah kaca. Jika kandungannya didalam udara berlebihan dapat menimbulkan efek rumah kaca.  Satu alasan lain sebagai pemicu terjadinya pemanasan global, padahal hasil pembakaran itu sendiri tidak baik untuk kesehatan manusia. (omg/eza)


      


 

Editor : Muhammad Erwinsyah