
TANJUNG SELOR – Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan V Tanjung Selor memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan Utara. Sebanyak empat unit mobil water tank disiagakan untuk mendukung proses pemadaman, khususnya di wilayah Kabupaten Bulungan.
Kepala BWS Kalimantan V Tanjung Selor Mustafa, S.ST., M.T. mengatakan, penanganan Karhutla dilakukan secara bersama dengan BPBD, pemadam kebakaran, TNI-Polri hingga masyarakat. Koordinasi tersebut dilakukan melalui Satgas Kekeringan Kementerian Pekerjaan Umum.
“Di Kementerian PU ada Satgas Kekeringan untuk menghadapi kondisi akibat El Nino. BWS menjadi ketua di daerah, kemudian wakilnya dari balai yang menangani sarana dan prasarana. Kami bergabung dengan BPBD kabupaten, Damkar, TNI-Polri, termasuk masyarakat. Jadi ketika ada kejadian, penanganannya memang kami lakukan bersama,” ujar Mustafa.
Di Kaltara, sejumlah kejadian Karhutla belakangan ini tercatat terjadi di Bulungan. Beberapa lokasi yang sempat ditangani antara lain Desa Apung, Salimbatu, Mangkupadi dan Tanah Kuning.
Menurut Mustafa, sebagian kebakaran terjadi di kawasan perkebunan sawit, termasuk lahan gambut. Kondisi tersebut membuat penanganan harus dilakukan dengan cepat agar api tidak menjalar lebih luas.
“Di Bulungan beberapa kali ada kejadian di Apung, Salimbatu, Mangkupadi dan Tanah Kuning. Kebanyakan memang di daerah kebun sawit, ada juga lahan gambut. Alhamdulillah dengan kolaborasi BWS, BPBD, Damkar, TNI-Polri dan masyarakat, titik-titik yang muncul bisa kami tangani dan dipadamkan,” katanya.
BWS menyiapkan empat unit mobil water tank untuk mendukung penanganan di Bulungan, Tana Tidung dan Malinau. Armada tersebut disiagakan agar bisa langsung bergerak ketika menerima laporan kebakaran.
“Kami siapkan empat unit mobil water tank untuk mendukung Bulungan, Tana Tidung dan Malinau. Kendaraan itu kami siagakan. Setelah kembali dari lokasi, langsung diisi lagi sehingga ketika ada laporan baru, bisa bergerak kembali,” jelasnya.
Kecepatan mendapatkan informasi menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan Karhutla. Laporan dapat berasal dari kepolisian, Babinsa maupun masyarakat yang menemukan adanya titik api.
“Informasinya bisa dari Polsek, Babinsa atau masyarakat. Begitu informasi masuk, teman-teman langsung turun. Kami bawa kendaraan bersama BPBD dan Damkar, kemudian langsung ke lokasi untuk melakukan pemadaman. Jadi tidak menunggu sampai api semakin meluas,” ungkap Mustafa.



