Radar Tarakan – Dalam kearifan lokal masyarakat Jawa, malam 10 Suro atau malam ke-10 bulan Muharram menurut kalender Hijriah, bukanlah malam biasa.
Menurut Primbon Jawa dan ajaran kejawen, malam ini merupakan waktu yang sangat sakral dan dipercaya menjadi momen terbukanya langit spiritual.
Energi semesta yang mengalir pada malam ini diyakini mampu membuka pintu rezeki, menenangkan batin, dan memberikan perlindungan dari energi negatif.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Scorpio Juli 2025: Jangan Terburu-Buru, Rezeki Lancar Asal Kendalikan Emosi
Dalam salah satu tayangan dari kanal YouTube Ngaos Jawa, dijelaskan bahwa malam 10 Suro adalah waktu ideal untuk melakukan laku spiritual atau tirakat.
Ini adalah bentuk latihan batin yang mengajak seseorang menahan hawa nafsu, menyepi dari keramaian, serta membersihkan diri secara lahir dan batin.
Bentuk tirakat bisa berupa puasa mutih, puasa rowot, atau bahkan puasa total, sesuai dengan kemampuan dan keyakinan masing-masing.
Tirakat ini diibaratkan seperti kendi kosong—yang harus dikosongkan terlebih dahulu agar bisa menerima “air suci” berupa energi dan berkah dari semesta.
Dengan hati yang bersih dan niat yang tulus, tirakat pada malam 10 Suro dipercaya mampu membuka jalan rezeki dan mendatangkan kekuatan batin yang luar biasa.
Selain tirakat, membaca doa Asyura sebanyak 70 kali juga sangat dianjurkan. Doa ini dipercaya mampu menolak bala, membuka jalan keberkahan, dan menjadi pelindung diri dari gangguan yang tak kasat mata.
Baca Juga: Wajib Tahu! 5 Sayuran Ini Justru Lebih Sehat Jika Dimakan Mentah
Pembacaan sebaiknya dilakukan setelah salat Maghrib atau Isya, diiringi aroma dupa atau minyak cendana untuk menciptakan ketenangan.
Setelah selesai, air putih yang ditiup doa bisa diminum atau dipercikkan ke penjuru rumah sebagai proteksi.
Amalan lain yang tak kalah penting adalah menyalakan lilin atau api kecil di empat penjuru ruangan.
Baca Juga: Popcorn Lung: Bahaya Vape yang Bisa Merusak Paru-Paru, Kenali Gejalanya yang Mirip Asma
Dalam filosofi Jawa, api adalah simbol cahaya batin yang mengusir kegelapan, serta bentuk penghormatan terhadap empat penjaga arah mata angin: Sang Hyang Ismaya, Brahma, Mahadewa, dan Wisnu. Lilin menjadi representasi cahaya spiritual yang menjaga ruang batin dari intervensi gaib.
Seluruh laku ini bukan sekadar ritual simbolik, tetapi diyakini sebagai media penghubung antara manusia dan energi semesta.
Malam 10 Suro menjadi kesempatan langka bagi siapa pun yang ingin memperbaiki nasib, memperdalam spiritualitas, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Baca Juga: 5 Manfaat Bawang Putih untuk Pria: Stamina, Libido, hingga Cegah Kanker Prostat!
Jika Anda merasa kehidupan terasa stagnan, penuh hambatan, atau sering mengalami kemalangan, malam 10 Suro adalah waktu yang sangat tepat untuk muhasabah dan mendekatkan diri secara spiritual.
Amalan-amalan ini terbuka untuk siapa saja bukan hanya untuk orang pintar, tapi untuk mereka yang tulus hatinya dan kuat niatnya. (jpg/rhl)
Editor : Azwar Halim