KPwBI Kaltara Buka Peluang Usaha Walet Masuk Program UMKM

Zakaria RT • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 06:15 WIB
ILUSTRASI GENERATE AI
ILUSTRASI GENERATE AI

TARAKAN - Pengembangan usaha sarang burung walet di Kalimantan Utara (Kaltara) berpeluang diarahkan masuk dalam program pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara. Langkah tersebut menjadi salah satu opsi untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha, sekaligus membuka akses pembiayaan dan pasar yang lebih luas.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara, Agus Taufik mengatakan, peluang tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut dengan melihat model pengembangan dan kebutuhan pelaku usaha walet. KPwBI Kaltara juga membuka ruang koordinasi dengan pemerintah daerah dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

“Termasuk kemungkinan memasukkan pelaku usaha walet dalam program pengembangan UMKM yang selama ini dijalankan KPwBI Kaltara,” jelasnya, Rabu (9/9).

Agus mengatakan, pengembangan usaha tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Pelaku usaha juga harus mampu menjaga kualitas produk dan memastikan kapasitas produksi dapat memenuhi kebutuhan pasar apabila akses perdagangan semakin terbuka.

“Kami telaah terlebih dahulu ya, kira-kira model kerja sama seperti apa, dan barangkali nanti BI bisa masuk dalam program UMKM-nya yang seperti apa gitu,” jelasnya.

Menurutnya, pembinaan UMKM yang dilakukan KPwBI Kaltara memiliki sejumlah skema untuk memperkuat usaha, termasuk mempertemukan pelaku usaha dengan pihak yang dapat mendukung perkembangan bisnis.

Skema tersebut antara lain onboarding, business matching pembiayaan hingga business matching ekspor. Melalui pola tersebut, pelaku usaha dapat dipertemukan dengan calon pembeli maupun mitra usaha, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Melalui onboarding, kemudian juga ada business matching. Business matching untuk pembiayaannya, kemudian business matching untuk ekspor, mempertemukan antara calon-calon pembeli potensial di mana pun, di dalam negeri maupun di luar negeri,” tuturnya.

Agus menilai skema tersebut dapat diterapkan untuk komoditas yang memiliki potensi pasar ekspor, termasuk sarang burung walet. Sebab, salah satu tantangan pelaku usaha adalah mendapatkan pembeli yang mampu menyerap produk secara berkelanjutan.

Selain akses pembiayaan dan pasar, KPwBI Kaltara juga mendorong pelaku UMKM memanfaatkan transaksi digital. Digitalisasi dinilai dapat memperluas jangkauan pemasaran sehingga pelaku usaha tidak hanya bergantung pada pasar di wilayah sekitar.

“Termasuk business matching bagaimana agar UMKM di sini juga bisa melakukan transaksi secara online, agar pasarnya semakin luas,” katanya.

Dengan demikian, potensi usaha walet di Kaltara dapat dikembangkan tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga melalui penguatan kualitas, kapasitas usaha, pembiayaan dan akses pasar.

“Kita telaah terlebih dahulu, kira-kira model kerja sama seperti apa, dan barangkali nanti BI bisa masuk dalam program UMKM-nya,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
tarakan kaltara umkm bi sarang walet