TARAKAN - Meski Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan menargetkan penyelesaiaan Sensus Ekonomi sebelum 17 Agustus namun hingga saat ini pelaksanaan sensus belum juga usai. Sehingga BPS terus menggenjot penyelesaian Sensus Ekonomi 2026. Untuk mengejar sisa pendataan, pegawai organik BPS Tarakan turut diterjunkan langsung ke lapangan setiap hari, termasuk pada Sabtu dan Minggu. Langkah tersebut dilakukan untuk membantu petugas menghadapi responden yang masih sulit ditemui maupun yang membutuhkan pendekatan lebih sebelum bersedia memberikan informasi.
Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi mengatakan, keterlibatan langsung pegawai BPS cukup membantu dalam membangun kepercayaan masyarakat maupun pelaku usaha terhadap proses pendataan.
“Teman-teman organik BPS sudah diterjunkan setiap hari, termasuk hari libur. Kami memanfaatkan waktu Sabtu dan Minggu untuk ikut menemani para petugas membantu pencacahan,” tuturnya, Selasa (18/8).
Menurut Umar, pendekatan langsung terutama diperlukan ketika petugas berhadapan dengan responden yang menjalankan usaha. Sebagian responden terkadang masih mempertanyakan tujuan kedatangan petugas maupun memastikan bahwa kegiatan tersebut merupakan pendataan resmi dari BPS.
Kehadiran pegawai BPS secara langsung, lanjutnya, membuat responden lebih yakin untuk memberikan informasi. Penjelasan mengenai kegiatan sensus juga dapat disampaikan secara langsung sehingga keraguan yang muncul dapat diminimalkan.
“Kadang responden, terutama yang usaha, ketika petugas datang bisa jadi masih belum cukup percaya. Ketika ditambah teman-teman BPS terjun langsung dan resmi, akhirnya mereka lebih terbuka kepada petugas,” katanya.
BPS Tarakan pun menyebarkan pegawainya ke berbagai wilayah untuk membantu penyelesaian pendataan. Pengerahan tersebut dilakukan karena setiap responden maupun unit usaha dinilai memiliki arti penting terhadap kelengkapan hasil Sensus Ekonomi.
Umar mengatakan, pihaknya berupaya memastikan tidak ada responden yang terlewat hanya karena kendala komunikasi maupun kesulitan petugas menemui responden di lapangan. “Kami menyebar seluruh pegawai untuk ikut membantu dan meyakinkan responden terkait pendataan ini. Karena kami merasa satu jiwa ataupun satu usaha itu semuanya berarti dalam penyelesaian Sensus Ekonomi ini,” tegas Umar.
Di lapangan, salah satu kendala yang masih dihadapi petugas berkaitan dengan responden yang berprofesi sebagai petambak. Aktivitas pekerjaan membuat sebagian petambak masih berada di lokasi tambak ketika petugas datang melakukan pendataan.
Meski demikian, Umar menyebut jumlah petambak yang belum berhasil ditemui tidak terlalu besar. Diperkirakan hanya beberapa puluh orang. Selain petambak, pekerja yang memiliki aktivitas pada siang hari juga menjadi tantangan tersendiri.
“Kalau banyaknya tidak terlalu signifikan, beberapa puluh petambak saja. Selain petambak, pekerja yang memiliki aktivitas pada siang hari juga menjadi tantangan tersendiri. Petugas harus melakukan kunjungan ulang pada sore atau waktu lain agar dapat bertemu langsung dengan responden,” ulasnya.
Kondisi tersebut membuat petugas harus menyesuaikan waktu kunjungan dengan aktivitas masyarakat. Responden yang tidak berada di rumah pada siang hari akan kembali didatangi pada sore atau waktu lain yang dinilai lebih memungkinkan.
Selain menyesuaikan waktu kunjungan, BPS juga memanfaatkan momentum tertentu ketika masyarakat lebih banyak berada di rumah. Salah satunya saat peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus lalu.
Umar menyebut momentum tersebut cukup membantu petugas menjangkau responden. Banyak masyarakat yang berkumpul di rumah dimanfaatkan petugas untuk melakukan pendataan terhadap responden yang sebelumnya sulit ditemui.
“Kemarin memanfaatkan waktu 17 Agustus dan ternyata banyak orang berkumpul di rumah. Itu dimanfaatkan petugas untuk bisa bertemu dengan responden,” ujarnya.
Upaya tersebut dilakukan seiring progres Sensus Ekonomi di Kota Tarakan yang telah mencapai lebih dari 90 persen. Meskipun target awal penyelesaian ditetapkan pada 12 Agustus 2026, proses pendataan masih berlanjut karena terdapat sejumlah responden yang belum berhasil ditemui.
BPS masih memiliki waktu hingga 31 Agustus 2026 untuk menyelesaikan sisa pendataan. Dengan pengerahan pegawai organik, pendampingan petugas lapangan, penyesuaian waktu kunjungan serta pendekatan langsung kepada responden, BPS terus mengejar penyelesaian seluruh target pendataan.
“Kami merasa satu jiwa ataupun satu usaha itu semuanya berarti dalam penyelesaian Sensus Ekonomi ini,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT