Soroti Tarif dan Jumlah Pengemudi Online di Tarakan, Ini Kata SePOI Kaltara

Zakaria RT • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 20:59 WIB
Ketua SePOI Kaltara, Misyadi. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Ketua SePOI Kaltara, Misyadi. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Penurunan potongan komisi aplikator menjadi 8 persen belum sepenuhnya dirasakan sebagai peningkatan pendapatan oleh pengemudi transportasi online di Kota Tarakan. Persoalan tarif hingga jumlah pengemudi yang terus bertambah justru dinilai masih menjadi tantangan yang memengaruhi pendapatan pengemudi di lapangan.

Ketua Serikat Pengemudi Online Indonesia (SePOI) Kalimantan Utara, Misyadi mengatakan, persoalan tersebut perlu dilihat lebih jauh karena penurunan komisi tidak secara otomatis membuat penghasilan pengemudi meningkat. Menurutnya, terdapat mekanisme perubahan nilai tarif yang dirasakan pengemudi sebelum potongan komisi diberlakukan.

Misyadi menjelaskan, SePOI Kaltara kemudian menghimpun keterangan langsung dari pengemudi yang beraktivitas di Tarakan setelah kebijakan komisi 8 persen diterapkan. Dari komunikasi tersebut, mayoritas pengemudi disebut tidak merasakan perubahan signifikan terhadap pendapatan.

“Teman-teman rata-rata menjawab tidak ada perubahan. Potongannya memang 8 persen, tetapi perubahan yang mendasar itu tidak ada,” katanya, Minggu (16/8).

Menurut Misyadi, secara nasional memang terdapat kenaikan pendapatan pada sebagian pengemudi. Namun, hasil kajian yang dilakukan SePOI Kaltara di lapangan menunjukkan kenaikan tersebut masih sangat kecil jika dibandingkan dengan peningkatan pendapatan yang disampaikan secara nasional.

“Kalau secara nasional perhitungannya memang ada kenaikan. Tetapi kenaikannya sangat-sangat minim. Untuk di Tarakan, teman-teman pengemudi tidak merasakan peningkatan seperti yang disampaikan,” ungkapnya.

Dia mengatakan, penerapan komisi 8 persen semestinya tidak hanya dilihat dari persentase potongan. Kondisi setiap daerah memiliki karakteristik berbeda, termasuk jumlah pengemudi, tingkat permintaan masyarakat, jarak perjalanan serta tarif yang berlaku.

Di Tarakan, lanjutnya, persoalan yang dihadapi pengemudi juga berkaitan dengan jumlah pengemudi yang terus bertambah. Kondisi tersebut dinilai berdampak terhadap peluang mendapatkan order karena jumlah perjalanan yang tersedia harus dibagi kepada semakin banyak pengemudi.

“Kondisi ini menjadi perhatian serius kami, terlebih berdasarkan informasi yang kami terima, penerimaan pengemudi baru oleh sejumlah aplikator masih terus berlangsung. Kurangnya mendapatkan orderan teman-teman itu bukan karena tidak adanya penumpang yang order, tetapi karena banyaknya pengemudi. Di Tarakan ini pengemudi ojol maupun taksol sudah banyak,” urainya.

Misyadi menyebut dua aplikator di Tarakan masih aktif membuka penerimaan pengemudi di Tarakan. Bahkan, menurut dia, pihak aplikator pernah menyampaikan bahwa penerimaan pengemudi dilakukan tanpa batas.

Kondisi tersebut menjadi salah satu aspirasi yang dibawa SePOI Kaltara dalam komunikasi dengan pemerintah daerah maupun DPRD. Mereka berharap pemerintah tidak hanya melihat transportasi online dari sisi kemudahan layanan bagi masyarakat, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan ekonomi para pengemudi.

“Harapan kami kepada pemerintah, khususnya pemerintah daerah, ini bisa menjadi perhatian. Karena setiap kami menanyakan kepada pihak aplikator, ketika kami mengkritik soal jumlah pengemudi, jawabannya kebutuhan pengemudi masih sangat diperlukan,” tuturnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
tarakan kaltara pengemudi online transportasi online