Industri Hilir Kaltara Dinilai Belum Optimal, Ini Kata Akademisi

Zakaria RT • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 19:53 WIB
Akademisi Ekonomi dari UBT, Dr. Margiyono, S.E., M.Si. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Akademisi Ekonomi dari UBT, Dr. Margiyono, S.E., M.Si. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Upaya meningkatkan nilai tambah berbagai potensi ekonomi di Kalimantan Utara (Kaltara) masih menghadapi persoalan pada rantai pengolahan. Berbagai barang yang telah tersedia dan dihasilkan di daerah belum seluruhnya dapat masuk ke dalam proses produksi lanjutan, sehingga potensi ekonomi yang seharusnya bisa berkembang melalui industri hilir belum terserap secara maksimal.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Akademisi dari Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr Margiyono, S.E., M.Si. Menurutnya, keberadaan komoditas saja belum cukup untuk memastikan terbentuknya industri yang kuat. Persoalan lain ialah adalah memastikan hasil produksi tersebut memiliki saluran penyerapan dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri.

“Saat ini persoalan penyerapan produksi masih dikatakan belum berjalan maksimal karena saat ini Kaltara masih mengalami kekurangan aktivitas produksi barang jadi dari pengembangan industri. Karena kalau kira berbicara produksi tidak hanya berbicara mengenai kemampuan menghasilkan barang, tetapi juga bagaimana barang tersebut dapat diproses kembali sehingga memiliki nilai tambah lebih tinggi," ujarnya, Minggu (9/8).

Ketika hasil produksi masih berhenti dalam bentuk barang awal, maka ruang untuk menciptakan nilai ekonomi lanjutan menjadi terbatas. Sebaliknya, apabila tersedia industri yang mampu menyerap dan mengolahnya, maka akan terbentuk rantai produksi yang lebih panjang di dalam daerah.

"Kondisi ini juga berkaitan dengan upaya Kaltara mengembangkan perekonomian berbasis potensi lokal. Berbagai komoditas yang tersedia perlu didukung dengan industri pengolahan agar tidak sekadar menjadi barang yang dipasarkan dalam bentuk awal," urainya.

"Dengan adanya industri hilir, hasil produksi dari sektor hulu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk setengah jadi maupun produk jadi. Proses tersebut berpotensi meningkatkan nilai jual sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru,". lanjutnya.

Selain itu, dikatakannya penguatan industri hilir dapat membuka peluang bagi tumbuhnya sektor pendukung. Kebutuhan terhadap tenaga kerja, transportasi, jasa perdagangan hingga distribusi akan ikut berkembang seiring meningkatnya aktivitas produksi.

"Karena itu, persoalan penyerapan bahan baku perlu dilihat sebagai bagian dari rantai ekonomi yang saling berkaitan. Produksi di tingkat hulu perlu memiliki keterhubungan dengan industri di tingkat hilir agar pertumbuhan ekonomi tidak berjalan secara parsial," ungkapnya.

Ia mencontohkan, beberapa potensi Komoditi Kaltara seperti rumput laut, hasil perikanan dan pangan di Kaltara yang saat ini masih kerap menjual komoditi dalam bentuk mentah. Alhasil potensi ini mengalami kebocoran karena tidak mendapatkan pengolahan lanjutan untuk dipasarkan dalam bentuk konsumsi langsung. Menurutnya, jika pemerintah cukup serius mendukung hilirisasi komoditi tersebut hal tersebut akan mendobrak perekonomian.

"Saya sejak beberapa tahun lalu mengatakan berulang ulang kalau kekurangan kita adalah tidak mampu menciptakan produk jadi yang siap konsumsi. Selama ini yang menjadi penggerak hanya UMKM, tapi itu belum cukup untuk mendongkrak perekonomian secara makro,” ucapnya.

Daerah butuh peran pemerintah untuk menciptakan industri lebih besar dalam mengolah komiditi tersebut menjadi siap konsumsi. Sehingga jika itu dilakukan, itu menjadi dasar kita untuk membuka pelabuhan ekspor langsung," pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
kaltara industri hilir industri