Lima Kelurahan Jadi Fokus Penanganan Stunting di Tarakan

Zakaria RT • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 18:51 WIB
PEMANTAUAN GIZI: Balita menjalani pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan dalam kegiatan Posyandu di Kota Tarakan. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
PEMANTAUAN GIZI: Balita menjalani pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan dalam kegiatan Posyandu di Kota Tarakan. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN – Meski prevalensi stunting di Kota Tarakan terus menurun, masih terdapat sejumlah wilayah yang mencatatkan angka di atas rata-rata kota. Kondisi ini menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan untuk memperkuat intervensi agar penurunan kasus dapat merata di seluruh kelurahan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Dinkes Kota Tarakan, Paulina Bura mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan status gizi hingga Juni 2026, prevalensi stunting di Kota Tarakan mencapai 4,18 persen atau sebanyak 532 balita dari 12.726 balita yang diperiksa.

"Berdasarkan hasil pemantauan status gizi hingga Juni 2026, prevalensi stunting di Kota Tarakan berada pada angka 4,18 persen. Dari 12.726 balita yang diperiksa, sebanyak 532 balita masih teridentifikasi mengalami stunting," katanya, Senin (3/8).

Paulina mengungkapkan, Kelurahan Pantai Amal masih menjadi wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi sebesar 8,33 persen. Kemudian disusul Sebengkok 6,26 persen, Juata Permai 6,13 persen, Gunung Lingkas 5,62 persen, dan Lingkas Ujung 5,57 persen.

"Angka tersebut tersebar di seluruh wilayah Tarakan dengan tingkat prevalensi yang berbeda-beda. Kelurahan Pantai Amal tercatat menjadi wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi, yakni 8,33 persen," terangnya.

Sementara itu, sejumlah kelurahan berhasil mencatatkan prevalensi stunting relatif rendah. Karang Rejo menjadi yang terendah dengan 1,74 persen, disusul Juata Kerikil 2,57 persen, Karang Harapan 2,89 persen, Pamusian 2,90 persen, dan Karang Anyar Pantai 3,05 persen.

"Perbedaan angka antarwilayah dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi sosial ekonomi keluarga, pola asuh anak, pemenuhan gizi, sanitasi lingkungan hingga akses terhadap pelayanan kesehatan," jelasnya.

Menurutnya, Dinkes terus memperkuat berbagai intervensi melalui pendampingan keluarga berisiko stunting, pemantauan pertumbuhan balita di Posyandu, pemberian makanan tambahan, edukasi gizi bagi ibu hamil dan ibu balita, serta koordinasi lintas sektor.

"Kami berharap tren penurunan prevalensi stunting dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan sehingga semakin sedikit balita yang mengalami gangguan pertumbuhan," ujarnya.

"Pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan semua pihak. Kami akan terus memperkuat intervensi agar anak-anak di Kota Tarakan dapat tumbuh sehat, memiliki status gizi yang baik, dan terhindar dari stunting," pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
stunting anak tarakan stunting