TARAKAN – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tarakan mulai memperkuat aspek pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) melalui program psikoedukasi dan skrining kesehatan mental. Program tersebut digelar bekerja sama dengan Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Kalimantan Utara (Kaltara), Jumat (31/7), di Aula Kunjungan Lapas Tarakan.
Kegiatan yang mengusung tema “Menjaga Kesehatan Mental di Lembaga Pemasyarakatan” itu menyasar petugas dan warga binaan, terutama tahanan serta narapidana yang belum memasuki masa pembinaan awal. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya promotif dan preventif agar kondisi psikologis warga binaan dapat dipetakan sejak dini.
Ketua IPK Indonesia Wilayah Kaltara, Arief Wahyu Utama, membuka kegiatan yang kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi psikoedukasi oleh Psikolog Fachri Fahmi. Selain memberikan edukasi mengenai pentingnya kesehatan jiwa, peserta juga menjalani skrining untuk mengidentifikasi potensi gangguan psikologis yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Kepala Lapas Kelas IIA Tarakan, Jupri, melalui Kepala Sub Seksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Bimaswat), Taufik Rowandy mengatakan, kerja sama tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kesehatan dan rehabilitasi mental di lingkungan pemasyarakatan.
“Fokus utama kami adalah membangun kesadaran warga binaan terhadap pentingnya memahami kondisi psikologis selama menjalani masa pembinaan. Dengan begitu, proses pembinaan dapat berjalan lebih efektif,” ujarnya.
Menurut Taufik, kondisi mental yang terjaga akan memudahkan warga binaan mengikuti berbagai program pembinaan, baik pembinaan kepribadian maupun kemandirian. Hal tersebut juga menjadi bekal penting dalam proses reintegrasi sosial setelah mereka menyelesaikan masa pidana.
Ia menambahkan, hasil skrining akan menjadi dasar bagi Lapas Tarakan untuk menentukan bentuk pendampingan lanjutan bagi warga binaan yang membutuhkan perhatian khusus.
“Kami berharap melalui kegiatan ini warga binaan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan mental, sehingga proses pembinaan hingga reintegrasi ke tengah masyarakat dapat berlangsung secara optimal,” katanya.
Lapas Kelas IIA Tarakan menegaskan akan terus melakukan pendampingan dan pengawasan terhadap kondisi psikologis warga binaan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembinaan pemasyarakatan. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT