Perguruan Tinggi Swasta Ini Mahasiswanya Tidak Bisa Menerima Bantuan Beasiswa Kaltara Unggul, Ini Penyebabnya

Zakaria RT • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 20:01 WIB
Direktur Politeknik Bisnis Kaltara Dr. Ana Sriekaningsih. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Direktur Politeknik Bisnis Kaltara Dr. Ana Sriekaningsih. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN – Perubahan mekanisme penyaluran Beasiswa Kaltara Unggul pada 2026 tidak hanya mengubah tata cara pemberian bantuan pendidikan, tetapi juga membuat sebagian mahasiswa di Kalimantan Utara (Kaltara) kehilangan kesempatan mengikuti program tersebut. Salah satunya dialami mahasiswa Politeknik Bisnis Kaltara yang tahun ini tidak dapat mengakses beasiswa karena kampusnya belum masuk dalam daftar perguruan tinggi mitra Pemerintah Provinsi Kaltara.

Direktur Politeknik Bisnis Kaltara, Dr. Ana Sriekaningsih mengungkapkan, pihaknya baru mengetahui adanya ketentuan baru yang mengharuskan perguruan tinggi memiliki kerja sama dengan Pemprov Kaltara agar mahasiswanya dapat menerima Beasiswa Kaltara Unggul. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya seluruh mahasiswa yang memenuhi syarat dapat mendaftar secara terbuka melalui sistem yang disiapkan pemerintah.

"Kecewa pasti ada, karena selama ini setiap tahun mahasiswa kami selalu mendapat Beasiswa Kaltara Cerdas. Memang jumlahnya tidak banyak, tetapi bantuan itu sangat berarti. Bukan hanya membantu biaya pendidikan, tetapi juga menjadi bentuk penghargaan bagi mahasiswa yang memiliki prestasi akademik," ujarnya, Minggu (26/7).

Menurut Ana, selama ini pihak kampus hanya meneruskan informasi pendaftaran kepada mahasiswa yang memenuhi persyaratan. Selanjutnya, mahasiswa mendaftarkan diri secara mandiri melalui laman yang disediakan pemerintah provinsi tanpa harus melalui kerja sama kelembagaan.

Namun mekanisme tersebut berubah pada tahun ini. Penyaluran beasiswa dilakukan melalui perguruan tinggi yang telah menjalin nota kesepahaman dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara. Akibatnya, mahasiswa dari kampus yang belum menjadi mitra otomatis tidak dapat mengikuti proses seleksi.

Ana mengaku memahami bahwa pemerintah memiliki pertimbangan tersendiri dalam mengubah mekanisme penyaluran beasiswa. Meski demikian, ia berharap perubahan kebijakan tersebut disertai sosialisasi yang lebih luas sehingga seluruh perguruan tinggi memiliki kesempatan yang sama untuk memenuhi persyaratan.

"Kalau sejak awal kami mengetahui bahwa syaratnya harus ada kerja sama, tentu kami akan mengurusnya. Kami tidak mempermasalahkan aturannya, tetapi berharap semua perguruan tinggi diberikan kesempatan yang sama untuk menjadi mitra sehingga mahasiswa tidak kehilangan hak untuk mengikuti program beasiswa," katanya.

Ia juga menegaskan, pihaknya tidak memandang kebijakan tersebut sebagai bentuk diskriminasi. Menurutnya, aturan yang telah ditetapkan pemerintah tetap harus dihormati. Hanya saja, kesempatan untuk bergabung dalam skema kerja sama sebaiknya dibuka bagi seluruh perguruan tinggi di Kalimantan Utara.

"Saya tidak mengatakan ini diskriminasi. Kalau memang sudah menjadi aturan pemerintah tentu harus kami ikuti. Yang kami harapkan adalah adanya kesempatan agar semua perguruan tinggi juga bisa menjadi bagian dari program tersebut," ujarnya.

Ana menjelaskan, sebagian besar mahasiswa Politeknik Bisnis Kaltara berasal dari berbagai kabupaten di Kalimantan Utara. Mereka datang ke Tarakan untuk melanjutkan pendidikan dengan berbagai keterbatasan ekonomi. Selain membayar uang kuliah, mahasiswa juga harus memenuhi kebutuhan tempat tinggal, konsumsi, dan biaya hidup selama menempuh pendidikan.

Kondisi tersebut semakin berat setelah kuota penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah yang diterima Politeknik Bisnis Kaltara mengalami penurunan. Karena itu, Beasiswa Kaltara Unggul menjadi salah satu harapan mahasiswa untuk membantu keberlangsungan studi mereka.

Ana mengungkapkan, mahasiswa angkatan 2025 sebenarnya telah menunggu semester kedua agar memenuhi syarat mendaftar Beasiswa Kaltara Unggul. Namun perubahan mekanisme membuat harapan tersebut pupus karena kampus mereka tidak termasuk dalam perguruan tinggi yang dapat mengusulkan penerima.

"Mahasiswa angkatan 2025 sudah menunggu kesempatan itu karena mereka baru memiliki indeks prestasi setelah semester dua. Mereka berharap bisa mendaftar tahun ini, tetapi dengan aturan baru akhirnya kesempatan tersebut tidak ada," ungkapnya.

Saat ini Politeknik Bisnis Kaltara memiliki sekitar 150 hingga 200 mahasiswa aktif. Selama beberapa tahun terakhir, sebagian mahasiswa memperoleh bantuan melalui program KIP Kuliah maupun Beasiswa Kaltara Cerdas. Menurut Ana, kedua program tersebut sangat membantu mahasiswa untuk tetap melanjutkan pendidikan hingga lulus.

Untuk itu, pihak kampus berencana segera menjalin komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara guna mengetahui mekanisme kerja sama yang harus dipenuhi agar dapat menjadi perguruan tinggi mitra penyalur Beasiswa Kaltara Unggul pada tahun mendatang.

"Kami akan bersilaturahmi dengan pemerintah provinsi untuk meminta arahan mengenai prosedur kerja sama. Harapan kami, ke depan mahasiswa Politeknik Bisnis Kaltara memiliki kesempatan yang sama dengan mahasiswa dari perguruan tinggi lainnya untuk memperoleh Beasiswa Kaltara Unggul," pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
kaltara perguruan tinggi beasiswa