TARAKAN - Banyaknya aktivitas perambahan lahan untuk pemukiman dan aktivitas pertambangan galian C, membuat habitat rumpun bambu di Kota Tarakan terancam. Akibatnya berkurangnya populasi rumpun bambu di alam liar membuat lereng bukit cukup rawan terjadi longsor. Alhasil kondisi ini menjadi ancaman langsung bagi masyarakat.
Menyadari kondisi ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan mengimbau masyarakat tidak sembarangan menebang bambu, bahkan mulai membudayakan penanaman dan perawatannya sebagai bagian dari mitigasi bencana berbasis lingkungan.
Saat dikonfirmasi, Kepala BPBD Tarakan, Yonsep mengatakan, upaya pencegahan bencana tidak cukup hanya dilakukan pemerintah melalui penanganan saat terjadi longsor. Menurutnya, masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dalam menjaga kondisi lingkungan, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan perbukitan maupun lereng yang berpotensi mengalami pergerakan tanah.
"Kami mengimbau masyarakat agar tidak merusak rumpun bambu yang ada di alam karena bambu ini memiliki banyak peran terhadap lingkungan. Saat ini masih banyak masyarakat yang menganggap rumpun bambu sebagai tanaman liar jadi sering ditebang ketika membersihkan lahan atau membuka kawasan baru. Padahal, keberadaan bambu justru menjadi salah satu pelindung alami yang mampu menjaga kestabilan tanah," ujarnya, Jumat (10/7).
"Bambu memiliki peran yang tidak kalah dengan pohon beringin, dia punya akar sangat kuat yang menyebar di dalam tanah untuk mengikat tanah. Sebagian masyarakat memang masih mengaitkan bambu dan pohon beringin ini dengan hal mistis makanya mungkin itu juga jadi penyebab bambu ditebang. Jadi di luar itu bambu berperan besar untuk memperhankan kontur tanah," sambungnya.
Yonsep menjelaskan, bambu memiliki karakteristik akar serabut yang tumbuh rapat dan menyebar ke berbagai arah. Sistem perakaran tersebut mampu mengikat butiran tanah sehingga tidak mudah tergerus air hujan. Selain itu, bambu juga memiliki kemampuan menyerap air cukup tinggi sehingga dapat mengurangi genangan air di dalam lapisan tanah.
Menurutnya, kemampuan tersebut sangat dibutuhkan di Kota Tarakan yang memiliki karakteristik tanah berpasir. Struktur tanah seperti itu relatif lebih mudah mengalami pergeseran ketika menerima beban air dalam jumlah besar, terlebih jika vegetasi penutup lahan telah berkurang akibat aktivitas pembukaan lahan.
"Kami meminta masyarakat yang melakukan penebangan pohon atau pembukaan lahan agar segera melakukan penghijauan kembali. Langkah tersebut dinilai menjadi tanggung jawab bersama dalam menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus mengurangi potensi bencana. Sebenarnya wajib. Kalau menggundulkan lahan, ya harus menanam kembali," tegasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT