TARAKAN – Tekanan inflasi di Kota Tarakan diperkirakan masih berlanjut memasuki semester kedua 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Tarakan mengingatkan perlunya penguatan pengendalian harga, mengingat inflasi tahun kalender telah mencapai 1,87 persen hingga Juni. Apabila pola kenaikan harga pada paruh kedua tahun ini mengikuti tren tahun sebelumnya, inflasi hingga akhir tahun berpotensi meningkat lebih tinggi.
Kepala BPS Kota Tarakan, Umar Riyadi mengatakan, inflasi Juni masih didorong oleh kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dan biaya transportasi. Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi antara lain angkutan udara, bawang merah, bensin, kue basah, ikan layang atau ikan benggol, minyak goreng, seng, tomat, dan martabak.
"Cabai rawit kembali menjadi komoditas yang paling dominan memengaruhi inflasi bulan Juni. Selain itu, kenaikan tarif angkutan udara dan penyesuaian harga bahan bakar kendaraan juga memberikan andil yang cukup besar. Kondisi ini menunjukkan bahwa selain komoditas pangan, sektor transportasi masih menjadi faktor penting yang memengaruhi perkembangan inflasi di Kota Tarakan," ujar Umar Riyadi, Senin (6/7).
Di sisi lain, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga sehingga membantu meredam laju inflasi. Di antaranya kangkung, telur ayam ras, emas perhiasan, angkutan laut, daging ayam ras, buku tulis bergaris, terong, ketimun, bayam, hingga pembersih lantai.
Menurut Umar, kondisi tersebut menunjukkan mekanisme pasar masih berjalan cukup dinamis. Fluktuasi pasokan dan permintaan membuat sebagian komoditas mengalami penurunan harga sehingga mampu mengimbangi kenaikan harga komoditas lainnya.
"Adanya komoditas yang mengalami deflasi menunjukkan pergerakan harga di pasar masih cukup dinamis. Penurunan harga beberapa komoditas tersebut membantu meredam tekanan inflasi agar tidak lebih tinggi. Kondisi ini tentu menjadi salah satu faktor penyeimbang dalam perkembangan indeks harga konsumen bulan Juni," katanya.
Ia menegaskan pengendalian harga komoditas pangan strategis harus terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pemerintah daerah, instansi terkait, dan seluruh pemangku kepentingan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi daya beli masyarakat.
"Melihat perkembangan inflasi hingga pertengahan tahun, pengendalian harga komoditas pangan strategis harus terus diperkuat. Sinergi TPID bersama seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar inflasi tetap terkendali sehingga tidak memberikan tekanan yang lebih besar terhadap masyarakat maupun perekonomian daerah," tuturnya.
Umar berharap berbagai langkah pengendalian yang telah dilakukan dapat menjaga stabilitas harga hingga akhir tahun sehingga aktivitas ekonomi tetap tumbuh dan daya beli masyarakat tidak mengalami penurunan.
"Harapannya, stabilitas harga tetap terjaga sehingga aktivitas ekonomi berjalan baik dan daya beli masyarakat tidak mengalami penurunan hingga akhir tahun," pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT