TARAKAN - Sebagai upaya menaikan taraf hidup masyarakat kurang mampu atau miskin ekstrem, pemerintah membentuk Sekolah Rakyat yang tak hanya berfokus memberikan akses pendidikan bagi anak-anak dari kurang mampu, tetapi juga menyiapkan masa depan mereka agar mampu memutus rantai kemiskinan. Selain menjamin pendidikan gratis, sekolah yang berada di bawah naungan Kementerian Sosial (Kemensos) itu juga mengintegrasikan pembinaan karakter, pendampingan keluarga hingga pemberdayaan ekonomi bagi orang tua siswa.
Saat dikonfirmasi, Kepala Sekolah Rakyat 59 Tarakan, Marisa Aulia mengatakan, seluruh siswa yang tinggal di asrama mendapatkan pendampingan secara intensif melalui sistem wali asrama dan wali asuh. Menurutnya, setiap wali asuh bertanggung jawab mendampingi sekitar 10 siswa sehingga hubungan yang terbangun tidak sekadar antara guru dan murid, tetapi layaknya orang tua dan anak.
"Di SR kami memiliki wali asrama dan wali asuh. Idealnya satu wali asuh mendampingi 10 anak. Mereka inilah yang menjadi orang tua bagi anak-anak selama berada di Sekolah Rakyat. Mereka bukan hanya mengawasi kegiatan belajar, tetapi juga membentuk karakter dan kebiasaan hidup anak-anak," ujarnya, Senin (29/6).
Marisa menjelaskan, tujuan utama Sekolah Rakyat bukan hanya menyekolahkan anak-anak dari keluarga kurang mampu, melainkan memastikan mereka mampu mengubah kondisi ekonomi keluarganya di masa depan. Ia menyebut Kemensos RI telah menyiapkan skema keberlanjutan bagi lulusan Sekolah Rakyat terutama jenjang SMA.
"Janjinya dari kementerian (sosial), anak-anak Sekolah Rakyat tidak boleh menganggur setelah lulus SMA. Kalau ingin kuliah akan dibantu, termasuk pembiayaannya. Kalau ingin langsung bekerja, mereka akan diarahkan dan dibantu mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Tujuannya supaya mereka benar-benar bisa meningkatkan derajat hidup keluarganya," katanya.
Selain menyiapkan masa depan siswa, pemerintah juga melakukan intervensi terhadap kondisi ekonomi keluarga. Marisa mengungkapkan orang tua siswa menjadi prioritas dalam berbagai program pemberdayaan ekonomi yang dijalankan Kemensos RI bersama Dinas Sosial (Dinsos) provinsi dan kota.
"Sekarang sudah berjalan program pemberdayaan. Orang tua didatangi satu per satu, ditanya ingin membuka usaha apa, kemudian diberikan bantuan modal. Saat ini sudah ada lebih dari 20 keluarga yang sedang dalam tahap penyaluran bantuan. Nanti masih ada bantuan lanjutan lagi melalui program dari Sentra Handayani. Jadi kalau memang orang tuanya mau berusaha, insyaallah akan dibantu," jelasnya.
Menurutnya, bantuan tersebut tidak diberikan dalam bentuk uang tunai semata, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan usaha agar benar-benar produktif. Meski demikian, Marisa mengakui tantangan terbesar bukan berasal dari anak-anak, melainkan pola pikir sebagian orang tua yang masih menggantungkan penghasilan keluarga kepada anak.
"Kalau hanya diberikan uang, kadang habis begitu saja. Karena itu yang kami dorong adalah bantuan yang bisa membuat mereka mandiri dan memiliki usaha," terangnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT