0 Kaltara Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Orang Kaltara Dilarang Sakit Parah

Nur Rahman • Senin, 29 Juni 2026 | 11:42 WIB
Direktur Radar Tarakan Nur Rahman Saeroni
Direktur Radar Tarakan Nur Rahman Saeroni

JUMAT (26/6) pekan lalu, saya bertakziyah ke kediaman Burhan di Jalan Cahaya Baru, Karang Harapan, Tarakan Barat. Pria yang sehari-hari seorang fotografer ini tengah berduka, karena putranya, Zivian (5) berpulang pada hari itu.

Sepuluh hari sebelumnya, sang buah hati terlibat insiden yang mengakibatkan cedera serius pada kepala bagian dalam. Sempat mengalami pendarahan, yang keluar lewat mulut, sang anak sepekan lebih tak sadarkan diri, hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir pada Jumat lalu.

Kami tak ingin menyoroti kronologi yang menyebabkan insiden, atau mencari asbab dari peristiwa nahas itu. Yang membuat saya bertanya-tanya (awalnya), adalah tindakan setelah insiden.

Satu-dua hari setelah kejadian, curhatan orangtua Zivian sering sampai ke kami. Itu karena kami berada satu grup Whatsapp dengan orangtuanya, di forum orang tua murid. Sejak kejadian hingga masa-masa kritis, ibunya selalu update kondisi sang anak, berikut penanganan yang dilakukan dan ditawarkan rumah sakit.

Satu poin yang cukup membuat kami kaget, adalah pernyataan dari Rizky Amelia, ibu Zivian. Dia menyebut, tenaga medis di rumah sakit yang menangani anaknya, saat itu berujar bahwa sementara tak ada yang dapat dilakukan selain pasrah dan berharap ada keajaiban. Pun kalau sembuh, ada peluang terjadi penurunan fungsi pada otak atau jaringan sarafnya.

Kami akhirnya paham, setelah pernyataan itu muncul disusul informasi kalau di Tarakan tak ada dokter spesialis bedah saraf. Saya tak mempelajari diagnosisnya, tapi berdasarkan penuturan dari Rizky, tindakan yang dibutuhkan adalah pada sekitar otak yang cedera. 

Situasi itu terkonfirmasi dari beberapa tenaga medis di lingkaran pertemanan saya. Dan benar, jawabannya hanya satu dokter spesialis bedah saraf. Kabarnya, terakhir kali Kaltara memiliki dokter tersebut adalah Februari 2026, yakni dr Noor Akbar, Sp.BS yang bertugas di RSUD Jusuf SK Tarakan.

“Sekarang sudah nggak ada, Bang (spesialis bedah saraf, Red). Kayaknya terakhir sebelum Ramadan kemarin,” ucap seorang teman perawat yang bertugas di rumah sakit pemerintah daerah.

JANGAN BERHARAP TINDAKAN CEPAT

Banyak pihak mungkin akan berdalih, keterbatasan adalah paket dari status provinsi baru yang posisinya juga daerah terluar di Indonesia. Atau mungkin beralasan bahwa rasio dokter spesialis terhadap kebutuhannya memang kecil sekali. Tapi percayalah, tak ada satu alasan apapun yang sepadan dengan nyawa seseorang.

Saya pribadi pernah punya persoalan tentang terbatasnya dokter spesialis di Tarakan. Oktober 2025 lalu saya harus menjalani operasi penyambungan Tendon Achilles yang rupture atau sobek. Sebagai gambaran, tendon itu itu posisinya di atas tumit, menghubungkan otot betis dengan kaki bawah.

Beruntung saya mengambil pilihan cepat untuk dioperasi di Balikpapan, karena cederanya juga didapat di Kaltim sana. Bahkan saya sempat diberi pilihan, “mau sama dokter SpOT yang mana?”, sangking tersedianya.

Sepekan pascatindakan, saya menjadwalkan kontrol di Tarakan, namun pada pekan itu hanya ada satu pilihan dokter SpOT, dan satu pilihan lain pada pekan berikutnya. Itu adalah pernyataan dari dokter umum di fasilitas kesehatan pratama yang memberi saya rujukan kontrol.

Lalu saya iseng tanya, bagaimana kalau ada yang butuh tindakan cepat, seperti patah tulang atau semacamnya. Dokter umum itu sambil legowo menjawab, “Ya memang harus menunggu dokter SpOT ada, Pak. Kadang sampai dua pekan. Tapi kebanyakan pilih minta rujuk ke luar kota, seperti Balikpapan atau Makassar”.

Informasi itu bikin kaget. Namun tak lama dari situ, informasi itu diperkuat saat ada rekanan yang juga harus menjalani operasi Tendon Achilles. Dia menyebut, baru mendapat jadwal operasi tiga pekan setelah diagnosis cederanya.

Padahal, momentum tindakan menentukan hasil pemulihannya. Pada kasus Zivian di atas, bahkan harapannya adalah kelangsungan hidup. Meskipun sebagai makhluk beriman, kita juga meyakini usia dan nyawa ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.

Situasi kami yang cedera seputaran robek otot atau patah tulang, barangkali tak segenting insiden adik Zivian. Tapi sampai kapan kita hanya terima-terima saja dengan ketidakadaan. Fasilitas kesehatan yang mestinya jadi standar minimum di daerah lain, jadi tampak terlalu mahal untuk diupayakan di Kaltara.

Pemerintah, di level manapun, harus menjadikan kenyataan ini sebagai bahan refleksi. Daerah ini sering kita dapati bisa mendatangkan tokoh ataupun penghibur berkaliber nasional. Harusnya mengupayakan dokter spesialis untuk semua kebutuhan tindakan, bukanlah hal mustahil.

Apalagi harus menunggu nyawa lain kalah karena pasrah. Maut mungkin perkaran ghaib, tapi untuk menjaga harapan tetap hidup, harus ada yang bertanggung jawab. 

 

 

Editor : Januriansyah RT
#rumah sakit #kaltara #dokter #kesehatan