TARAKAN - Di hadapan guru, seorang anak menggenggam botol sampo dengan wajah penuh kebingungan. Benda yang bagi kebanyakan orang menjadi perlengkapan mandi sehari-hari itu terasa asing baginya. Dengan polos ia bertanya, "Bu, ini buat apa?" Di kesempatan lain, seorang anak lain terbiasa menggunakan sabun pencuci pakaian untuk keramas karena mengira cairan itu memang diperuntukkan membersihkan rambut. Kejadian ini bukanlah sepenggal cerita komedi, namun kejadian ini benar-benar terjadi saat murid Sekolah Rakyat 59 Tarakan baru pertama kali tiba di asrama untuk menjalani pendidikan.
Kisah itu hanya salah satu dari kisah menyedihkan terhadap potret anak bangsa "pinggiran" yang nyaris luput dari perhatian sendiri-sendi sosial. Para murid datang bukan hanya berealasan keterbatasan ekonomi, tetapi jauh lebih dari itu, mereka datang membawa luka kehidupan yang tak terlihat. Ada yang belum mengenal huruf meski usianya sudah belasan tahun, ada yang tidak memahami cara menjaga kebersihan diri, hingga anak yang kehilangan kemampuan tersenyum akibat kekerasan yang dialaminya sejak kecil.
Di tempat inilah pendidikan dimulai dari hal-hal paling mendasar. Bukan sekadar belajar membaca, menulis, atau berhitung, tetapi belajar mandi menggunakan sampo, menggosok gigi, mencuci pakaian sendiri, berbicara sopan, hingga mengenal kasih sayang yang mungkin selama ini tidak pernah mereka rasakan di rumah.
Saat ditemui Radar Tarakan, Kepala Sekolah Rakyat 59 Tarakan, Marisa Aulia mengaku, pengalaman mendampingi puluhan anak tersebut mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan di kota yang selama ini ia kenal. Sebelumnya ia mengaku tak pernah terpikir persoalan anak Indonesia begitu kompleks yang berakar dari kemiskinan. Namun saat menjadi nahkoda di sekolah yang menyasar pada anak warga miskin tersebut, ia tersadar jika kemiskinan tidak hanya membunuh keinginan, namun juga membunuh mental dan harapan-harapan sederhana manusia.
"Jujur saya lahir di Tarakan. Saya pikir saya tahu bagaimana kondisi masyarakat di sini. Ternyata setelah masuk ke Sekolah Rakyat, saya baru sadar masih banyak anak-anak yang selama ini tidak terlihat. Seperti yang disampaikan Presiden, mereka benar-benar berasal dari kalangan yang tidak terlihat. Saya sendiri tidak pernah menyangka masih ada anak yang tidak tahu menggunakan sampo, tidak pernah memakai sikat gigi, bahkan mandi menggunakan sabun cuci pakaian," tuturnya, belum lama ini.
Dikatakannya, Hari-hari pertama sekolah menjadi masa yang paling berat bagi seluruh guru. Mereka tidak hanya berhadapan dengan anak-anak yang kesulitan membaca, tetapi juga harus memahami luka yang dibawa masing-masing anak dari rumah. Marisa mengingat seorang anak yang sama sekali tidak mampu menunjukkan ekspresi. Setiap hari ia hanya duduk diam, tatapannya kosong dan anti sosial. Ternyata sang anak merupakan korban KDRT keluarganya yang telah merasakan kekerasan sejak bayi. Sehingga kata Marisa anak tersebut mengalami trauma dan menganggu mentalnya. Melihat kondisi sang murid ia dan para guru memiliki Pekerjaan Rumah (PR) besar yang ia emban untuk mengembalikan keceriaan sang anak layaknya anak pada umumnya.
"Kita tahu wajah orang yang seperti robot? Ya seperti itu. Mau diapa-apakan tetap diam. Tidak ada ekspresi sama sekali. Kami sampai berpikir, ini anak kenapa ya," kenangnya.
"Ayahnya sudah dipenjara karena melakukan KDRT kepada anak dan istrinya. Dari keterangan keluarganya orang tuanya bukan hanya memukul. Dalam salah satu kejadian, tubuh anak itu pernah dimasukkan ke dalam drum yang berisi air sebelum dipukul berkali-kali. Pada peristiwa lain, lehernya juga pernah diinjak. Sejak saat itu, anak tersebut mengalami trauma yang sangat berat terhadap air. Masuk ke kamar mandi saja ia ketakutan," sambungnya.
Dalam kondisi tersebut para guru berusaha keras untuk menyembuhkan trauma sang anak dan berusaha meyakinkan jika air bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Ketika guru memintanya mandi, ia terus memastikan ada seseorang yang menunggu di depan pintu lantaran sang anak takut membasuh badannya tanpa didampingi.
"Saya pernah berdiri di depan kamar mandi cukup lama. Dia berkali-kali memanggil dari dalam, 'Ibu masih di luar? Saya jawab masih. Baru dia berani mandi. Setelah kami telusuri, ternyata dulu dia pernah direndam ayahnya di dalam drum berisi air. Jadi setiap melihat air dia takut."
Meski harus bekerja ekstra, namun guru-guru di Sekolah Rakyat tidak pernah mencoba memaksa. Mereka memilih menjadi tempat yang aman. Dikatakannya, upaya tersebut membutuhkan kesabaran ekstra hingga sang anak mulai kembali menemukan warna hidupnya.
"Pada Januari lalu kami mendengar tangisan pertamanya. Mungkin bagi orang lain itu biasa saja. Tapi bagi kami, itu luar biasa. Artinya dia mulai bisa mengeluarkan emosinya. Setelah itu dia mulai tertawa, mulai berani bilang 'aku tidak mau', mulai marah. Dulu benar-benar seperti robot. Sekarang dia sudah bisa menjadi anak-anak lagi," tutur Marisa.
Bagi guru-guru Sekolah Rakyat, tangisan itu bukan pertanda kelemahan. Mengingat sang anak terkenal tidak bisa mengekspresikan apapun selain tatapan kosong. Bagi para guru, ekspresi emosi bentuk apapun yang dikeluarkan menjadi keberhasilan lantaran telah mengembalikan sang anak layaknya anak pada umumnya. Tangisan itu justru menjadi bukti bahwa seorang anak yang selama bertahun-tahun hidup dalam ketakutan akhirnya mulai merasa aman.
"Sekarang anak itu sudah bisa ketawa, senyum kalau marah dia protes. Alhamdulillah kami sangat senang, kalau ingat pertama kali dia datang, waaahhh mungkin siapa pun yang lihat pasti kaget. Kami kira mungkin itu puncak dari trauma," jelasnya.
Marisa masih mengingat seorang anak yang datang tanpa mengenal cara menggunakan sampo. Ketika guru memberikan sebotol sampo, anak tersebut justru bertanya apa fungsi benda itu. Ada pula siswa yang selama ini menggunakan sabun pencuci pakaian untuk keramas karena mengira cairan tersebut memang diperuntukkan membersihkan rambut.
"Awalnya saya mencium bau yang berbeda. Ternyata dia menggunakan sabun Rinso cair untuk keramas. Dia pikir itu memang sabun mandi. Jadi selesai mencuci baju, sabunnya dipakai juga untuk rambut. Kami benar-benar tidak menyangka masih ada anak dengan pengalaman hidup seperti itu," ucapnya.
Ada pula anak yang baru pertama kali memegang sikat gigi ketika masuk Sekolah Rakyat. Sebagian belum terbiasa duduk di kursi karena di rumah mereka tidak memiliki kursi. Saat berada di kelas, mereka spontan duduk bersila di atas kursi sebagaimana kebiasaan ketika berada di lantai rumah.
"Kami mengajari mereka dari nol. Cara duduk, cara mandi, memakai sampo, mencuci pakaian, sampai menyikat gigi. Hal-hal yang mungkin bagi kita sederhana, ternyata belum pernah mereka pelajari sebelumnya," katanya.
Persoalan lain juga ditemukan saat guru melakukan asesmen kemampuan akademik. Tidak sedikit siswa yang belum mampu membaca meski usia mereka sudah memasuki jenjang SMP. Ada yang berhenti membaca ketika menemukan dua huruf konsonan berdampingan karena belum memahami cara mengejanya. Salah satu cerita yang membuat guru terharu datang dari seorang siswi bernama Safira. Ketika pertama masuk, ia belum mengenal huruf. Namun keinginan besarnya untuk bersekolah membuat perkembangan belajarnya berlangsung sangat cepat.
"Menurut ibunya, Safira sama sekali belum bisa membaca waktu masuk. Tapi karena semangatnya tinggi, sekarang setiap melihat tulisan dia selalu berhenti untuk membacanya. Dia senang sekali punya seragam, punya buku, punya ruang kelas. Hal-hal yang selama ini tidak pernah dia miliki," ungkap Marisa.
Perubahan anak-anak itu juga dirasakan langsung oleh keluarga mereka. Saat libur semester, banyak orang tua menghubungi guru melalui pesan singkat untuk menyampaikan terimakasih kepadanya lantaran ia dan para guru dianggap dapat mengubah karakter anak 180 derajat dari sebelumnya.
"Ada orang tua yang mengirim WhatsApp mengucapkan terima kasih karena sekarang anaknya membangunkan salat Subuh. Ada juga yang bilang anaknya tidak mau lagi dibantu mencuci pakaian karena merasa itu sudah menjadi tanggung jawabnya sendiri. Hal-hal sederhana seperti itu membuat kami terharu," katanya.
Menurut Marisa, Sekolah Rakyat memang lahir untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak dari keluarga miskin. Namun dalam praktiknya, sekolah itu juga menjadi tempat memulihkan luka yang selama ini mereka bawa dari rumah. Karena itu, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya diukur dari kemampuan membaca atau nilai rapor siswa. Keberhasilan juga terlihat ketika seorang anak yang dulu takut mandi akhirnya berani masuk ke kamar mandi sendiri, ketika anak yang tidak pernah tersenyum mulai tertawa bersama teman-temannya, atau ketika seorang korban kekerasan akhirnya mampu menangis setelah sekian lama memendam seluruh emosinya.
"Itulah yang paling membuat kami bersyukur. Kami memang mengajarkan pelajaran di kelas, tetapi yang lebih penting adalah mengembalikan mereka menjadi anak-anak. Kami ingin mereka percaya bahwa mereka berharga, mereka dicintai, dan mereka juga berhak memiliki masa depan yang lebih baik,"
Tak hanya persoalan kebersihan diri, kondisi kesehatan anak-anak juga menjadi perhatian utama. Sebelum proses belajar dimulai, seluruh siswa menjalani asesmen menyeluruh. Asesmen juga dilakukan terhadap kemampuan membaca, menulis, berhitung, hingga kondisi psikologis setiap anak.
"Kami periksa dulu kesehatannya. Banyak penyakit kulit, infeksi telinga, gigi berlubang. Kami bekerja sama dengan puskesmas karena anak yang sakit tentu akan sulit menerima pelajaran."urainya.
Dikatakannya, selama tiga bulan pertama, sekolah lebih banyak berfokus pada pemulihan kondisi dasar siswa daripada mengejar materi pelajaran. Menurut Marisa, perubahan tersebut tidak mungkin terjadi tanpa pendekatan yang bersifat personal. Karena itu setiap sekitar sepuluh siswa didampingi seorang wali asuh yang berperan layaknya orang tua.
"Setiap anak berbeda. Ada yang harus diperlakukan dengan kelembutan karena trauma, ada juga yang perlu ketegasan melalui konsekuensi, bukan hukuman. Misalnya kalau sering menghilangkan sandal, konsekuensinya dia tidak boleh ikut bermain sampai punya sandal lagi. Mereka belajar bertanggung jawab dari situ," ucapnya.
Baginya, keberhasilan Sekolah Rakyat bukan semata-mata ketika siswa memperoleh nilai tinggi atau meraih prestas, namun ketika sekolah berhasil mengubah karakter anak menjadi lebih baik. Menurutnya, seorang anak yang dulu hidup dalam ketakutan akhirnya berani tersenyum, ketika anak yang tidak mengenal huruf mulai menikmati membaca, atau ketika seorang ibu menangis haru karena anaknya pulang membawa kebiasaan baik yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Itulah sebenarnya yang ingin kami bangun di Sekolah Rakyat. Kami memang berangkat dari kemiskinan, tetapi tujuan akhirnya bukan hanya menghapus kemiskinan. Kami ingin anak-anak ini memiliki karakter, kemandirian, pendidikan, dan keyakinan bahwa mereka juga berhak memiliki masa depan yang lebih baik," tuturnya.
"Kemiskinan hanya bagian dampak dari mental, ketika mereka berpikir positif dan diajarkan skill, atutude dan mendapat privilage ke dunia kerja dengan keahliannya, maka di situ mereka mulai mengangkat taraf hidupnya," pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT