Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Antre Berjam-jam hingga Ujian Kesabaran di Mina, Ragam Cerita Jemaah Haji Asal Tarakan

Zakaria RT • Rabu, 17 Juni 2026 | 18:40 WIB
DISAMBUT: Kedatangan jemaah haji asal Kaltara disambut oleh keluarga dan kerabat. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
DISAMBUT: Kedatangan jemaah haji asal Kaltara disambut oleh keluarga dan kerabat. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Ibadah haji bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga ujian fisik dan mental yang harus dilalui setiap jemaah. Setelah menuntaskan seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci, jemaah haji asal Kota Tarakan yang tergabung dalam Kloter 7 Embarkasi Balikpapan membagikan pengalaman mereka menghadapi berbagai tantangan selama musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Salah seorang jemaah asal Tarakan Ari Wibowo mengungkapkan, secara umum pelaksanaan ibadah haji berjalan lancar sejak keberangkatan hingga kembali ke Tanah Air. Menurutnya, keberadaan petugas haji Indonesia yang tersebar di berbagai lokasi ibadah menjadi faktor penting yang membantu kelancaran aktivitas jemaah.

“Selama ibadah semuanya berjalan lancar. Untuk seluruh rangkaian haji Kota Tarakan juga berjalan baik. Petugas di sana tersebar di berbagai titik ibadah, selalu ada petugas Indonesia. Jadi kemungkinan jemaah tersesat sangat kecil karena selalu ada yang membantu,” ujarnya, Rabu (17/6).

Pria berusia 36 tahun itu menjelaskan petugas tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga aktif memantau pergerakan jemaah Indonesia di berbagai lokasi. Kondisi tersebut membuat jemaah merasa lebih aman dan nyaman saat menjalankan ibadah.

Selain itu, Ari menilai penerapan sistem penjadwalan oleh otoritas Arab Saudi mampu mengurangi kepadatan saat pelaksanaan lempar jumrah. Setiap negara mendapatkan jadwal berbeda sesuai pengaturan maktab sehingga pergerakan jemaah lebih tertib.

“Tidak berdesakan karena kita dijadwalkan. Setiap negara punya jadwal melontar jumrah yang sudah ditentukan maktab masing-masing, jadi sesuai regulasi Arab Saudi. Aman semua,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui ada beberapa catatan yang menjadi evaluasi dalam penyelenggaraan haji tahun ini, terutama terkait transportasi pada fase Armuzna. Menurutnya, proses perpindahan jemaah dari Muzdalifah menuju Mina berlangsung cukup lama akibat keterlambatan armada pengangkut.

“Kalau makanan sangat berlimpah, terutama di Mina. Tapi evaluasi ada di Muzdalifah terkait transportasi. Kami menunggu hampir 4 sampai 5 jam untuk diangkut ke Mina. Itu yang jadi PR,” ungkapnya.

Ari menjelaskan, saat itu rombongan harus menunggu sejak sekitar pukul 00.00 hingga menjelang pukul 05.00 waktu setempat sebelum akhirnya tiba di Mina. Selain tantangan transportasi, cuaca ekstrem juga menjadi ujian tersendiri bagi para jemaah. Saat pelaksanaan lempar jumrah, suhu udara di kawasan Mina disebut dapat mencapai sekitar 45 derajat Celsius.

“Koordinasi antara petugas dan maktab kurang, jadi pengangkutan lambat. Makanan tersedia, kami juga membawa bekal masing-masing. Hanya saja koordinasi bus yang kurang. Iya, rata-rata semua melakukan penyesuaian karena memang berbeda. Di Madinah dan Makkah berbeda, apalagi di Mina. Sempat melontar jumrah siang hari, jadi tantangannya panas. Suhunya bisa sampai 45 derajat,” tuturnya.

Di tengah pelaksanaan ibadah, Ari juga mengenang momen duka yang dialami rombongan Tarakan menyusul wafatnya salah seorang jemaah haji. Ia mengatakan para jemaah sempat menggelar doa bersama dan tahlilan untuk almarhum sebelum pelaksanaan wukuf di Arafah.

“Sempat doa bersama saat wukuf di Arafah. Malam sebelum wukuf kami tahlilan untuk almarhum,” katanya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#tarakan #haji #ibadah haji