TARAKAN - Terjadinya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai dapat menjadi pemicu berbagai tekanan ekonomi di Kalimantan Utara (Kaltara). Selain berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang, kenaikan BBM juga dapat memicu inflasi, menekan daya beli masyarakat, hingga memengaruhi aktivitas dunia usaha.
Akademisi Ekonomi dari Universitas Borneo Tarakan (UBT) Dr Margiyono S.E, M.Si mengatakan, harga BBM memiliki peran strategis dalam roda perekonomian karena hampir seluruh aktivitas produksi dan distribusi bergantung pada energi tersebut. Menurutnya, setiap kenaikan harga BBM umumnya akan diikuti peningkatan biaya operasional di berbagai sektor. Dampak awal biasanya dirasakan sektor transportasi, namun dalam jangka pendek akan menjalar ke sektor perdagangan, jasa, perikanan, hingga kebutuhan rumah tangga.
“Kenaikan harga BBM biasanya memberikan efek berantai terhadap perekonomian. Ketika biaya bahan bakar meningkat, biaya transportasi juga naik. Kondisi ini kemudian berpengaruh terhadap biaya distribusi barang dan jasa yang akhirnya berdampak pada harga yang harus dibayar masyarakat,” ujarnya, Rabu (10/6).
Ia menjelaskan, Kaltara memiliki karakteristik yang berbeda dibanding sejumlah daerah lain di Indonesia. Sebagian besar kebutuhan pokok masyarakat masih dipasok dari luar daerah melalui jalur laut maupun darat. Akibatnya, biaya logistik menjadi salah satu komponen penting dalam pembentukan harga barang di pasaran. Lanjutnya, jika harga BBM meningkat, biaya pengangkutan barang menuju Kaltara juga akan mengalami kenaikan. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan harga sejumlah komoditas kebutuhan pokok ikut terkerek.
“Karena banyak barang kebutuhan masyarakat masih didatangkan dari luar daerah, kenaikan biaya transportasi akan langsung berpengaruh terhadap harga barang. Ini yang membuat daerah seperti Kaltara cukup sensitif terhadap perubahan harga BBM,” katanya.
Margiyono menilai dampak yang paling dirasakan masyarakat adalah meningkatnya biaya hidup. Selain harus membayar ongkos transportasi yang lebih mahal, masyarakat juga berpotensi menghadapi kenaikan harga bahan pangan dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Menurutnya, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan menghadapi kondisi tersebut karena sebagian besar pendapatan mereka digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok.
“Ketika harga kebutuhan meningkat sementara pendapatan tidak bertambah, daya beli masyarakat akan menurun. Masyarakat harus mengalokasikan lebih banyak pengeluaran untuk kebutuhan dasar sehingga ruang untuk konsumsi lainnya menjadi semakin terbatas,” jelasnya.
Selain rumah tangga, pelaku usaha juga diperkirakan menghadapi tekanan yang tidak ringan. Kenaikan biaya bahan bakar dapat meningkatkan biaya produksi maupun distribusi, terutama bagi sektor yang sangat bergantung pada transportasi.
Lanjutnya, di Kaltara, sektor perikanan menjadi salah satu yang berpotensi terdampak langsung. Nelayan membutuhkan BBM untuk operasional melaut, sementara distribusi hasil tangkapan juga memerlukan biaya transportasi yang tidak sedikit.
Begitu pula dengan sektor perdagangan dan logistik yang harus menanggung kenaikan biaya angkut barang. Jika biaya tersebut tidak dapat diserap oleh pelaku usaha, maka akan diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga.
“Kenaikan biaya operasional tentu akan memengaruhi pelaku usaha. Mereka harus melakukan penyesuaian agar usaha tetap berjalan. Dalam banyak kasus, sebagian kenaikan biaya itu akhirnya berdampak pada harga jual barang atau jasa,” jelasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT