TARAKAN – Angka pengangguran terbuka di Kota Tarakan memang menunjukkan tren penurunan. Namun di balik capaian tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) Tarakan justru menyoroti fenomena yang dinilai lebih mengkhawatirkan, yakni meningkatnya jumlah anak muda usia produktif yang tidak bekerja, tidak mencari pekerjaan, dan tidak sedang menempuh pendidikan maupun pelatihan.
Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi mengatakan, kelompok tersebut tidak tercatat sebagai pengangguran dalam statistik ketenagakerjaan karena tidak aktif mencari pekerjaan. “Yang dikatakan pengangguran itu adalah mereka yang berstatus mencari kerja,” ujarnya.
Menurut Umar, masih banyak masyarakat yang menganggap seseorang yang tidak bekerja otomatis masuk kategori pengangguran. Padahal dalam konsep statistik ketenagakerjaan, terdapat kelompok yang tidak bekerja sekaligus tidak mencari pekerjaan.
“Karena ada lagi kasus di mana orang ditanya apakah sedang mencari pekerjaan, dia bilang tidak. Tapi dia juga tidak bekerja. Nah, yang model begini itu tidak bisa dikatakan pengangguran,” katanya.
Fenomena tersebut menjadi perhatian karena banyak ditemukan pada kelompok usia muda yang seharusnya menjadi tulang punggung bonus demografi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. “Ini yang sebetulnya dikhawatirkan sekarang ketika anak muda makin banyak yang tidak mencari pekerjaan, tidak bekerja, tidak kuliah, dan tidak juga dalam aktivitas menuntut ilmu,” ungkapnya.
Menurut Umar, kelompok usia produktif yang tidak terlibat dalam kegiatan ekonomi maupun peningkatan kapasitas diri berpotensi menjadi tantangan tersendiri bagi pembangunan daerah.
BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Tarakan pada Agustus 2025 berada di angka 5,06 persen atau turun dibanding tahun sebelumnya sebesar 5,11 persen. Jumlah pengangguran juga berkurang dari 6.216 orang menjadi 6.064 orang.
Meski demikian, Umar menilai angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi ketenagakerjaan secara utuh. “Pada akhirnya, bonus demografi itu akan optimal kalau usia produktifnya benar-benar aktif bekerja, belajar, atau meningkatkan keterampilan,” tegasnya.
Ia berharap seluruh pemangku kepentingan dapat mendorong generasi muda untuk lebih aktif mengembangkan kompetensi melalui pendidikan, pelatihan maupun kegiatan produktif lainnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT