TARAKAN – Perjuangan panjang melawan obesitas berhasil dilalui Bahar Mahmud, warga Tarakan yang mampu menurunkan berat badan lebih dari 62 kilogram dalam waktu sekitar enam bulan. Dari semula berada di kisaran 150 kilogram, kini berat badannya turun menjadi 87,7 kilogram setelah menerapkan perubahan pola hidup secara disiplin.
Bahar mengaku keputusan mengubah pola hidup berawal dari kekhawatirannya terhadap berbagai risiko kesehatan yang mulai mengancam. Saat menjalani pemeriksaan kesehatan, kadar gula darahnya sempat mencapai angka 216 setelah mengonsumsi makanan manis dalam jumlah besar. Selain itu, tekanan darahnya juga pernah berada di angka 180/110 mmHg meski dalam kondisi tidak melakukan aktivitas berat.
"Saya mulai sadar. Kalau saya tidak melakukan sesuatu, bukan cuma berat badan yang jadi masalah. Saya bisa kena komplikasi. Bisa ke jantung, ginjal, hipertensi. Saya mulai berpikir bukan cuma tentang diri saya sendiri, tapi tentang keluarga saya. Kalau saya kena komplikasi, secara otomatis mendekatkan saya pada kematian di usia muda," ujarnya, Minggu (31/5).
Kesadaran tersebut membuatnya mulai meninggalkan berbagai kebiasaan lama yang selama bertahun-tahun berkontribusi terhadap kenaikan berat badan. Ia mengganti minuman manis dengan air putih, mengurangi porsi makan secara bertahap, serta mempelajari konsep defisit kalori untuk mengatur asupan makanan sehari-hari.
Bahar juga menerapkan metode puasa secara bertahap. Ia memulai dari pola intermittent fasting sebelum meningkatkan durasi puasa hingga mampu menjalani water fasting selama 72 jam. Namun, ia menegaskan seluruh proses tersebut dilakukan secara bertahap agar tubuh dapat beradaptasi dengan perubahan pola makan yang dijalani.
"Diet saya itu dilakukan bertahap agar tubuh memiliki kesempatan beradaptasi. Setelah merasa nyaman, saya mulai mencoba puasa yang lebih panjang dengan tetap mengonsumsi air putih. Puncaknya adalah ketika mampu menjalani water fasting selama 72 jam," katanya.
Meski berhasil, perjalanan tersebut tidak berjalan mudah. Pada masa-masa awal menjalani pola hidup baru, Bahar mengaku mengalami tekanan fisik dan mental yang cukup berat. Tubuhnya yang terbiasa mengonsumsi makanan berlebihan harus beradaptasi dengan pola makan baru sehingga membuatnya sering merasa lemas, pusing, bahkan mengalami tekanan psikologis.
"Kalau saya menggambarkan waktu itu, rasanya seperti orang yang sedang sakau. Saya depresi. Bahkan saya suka berhalusinasi. Kepala pusing, badan tidak nyaman, pikiran terus mengajak makan. Berat sekali," ungkapnya.
Seiring berjalannya waktu, perubahan mulai dirasakan. Aktivitas yang sebelumnya sulit dilakukan menjadi lebih ringan. Kondisi kesehatannya juga membaik dan ia kini rutin menjalani berbagai aktivitas fisik seperti berjalan kaki, berkebun, hingga olahraga harian untuk menjaga kebugaran tubuh.
Menurut Bahar, keberhasilannya menurunkan berat badan bukan semata untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal, melainkan untuk menyelamatkan kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup. Ia berharap pengalamannya dapat menjadi motivasi bagi masyarakat yang sedang berjuang melawan obesitas.
"Kalau saya yang dulu 150 kilogram bisa berubah, saya yakin orang lain juga bisa. Yang penting jangan menyerah. Mulai saja dulu. Pelan-pelan. Karena yang kita selamatkan sebenarnya bukan sekadar berat badan, tapi hidup kita sendiri," pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT