KURSI plastik menjadi salah satu benda yang paling diingat Bahar Mahmud ketika mengenang masa-masa dirinya berada di puncak obesitas. Bukan karena nyaman diduduki, melainkan karena rasa khawatir yang selalu menghantuinya setiap kali harus duduk. Di mana pun berada, pria yang kini berusia 38 tahun itu selalu memikirkan satu hal yang mungkin tidak pernah dipikirkan orang lain, yakni apakah kursi yang didudukinya akan kuat menahan berat badannya atau justru patah di depan banyak orang.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Saat itu berat badan Bahar berada di kisaran 150 kilogram. Dengan tinggi badan sekitar 164 sentimeter, tubuhnya sudah masuk kategori obesitas ekstrem. Hampir seluruh aktivitas sehari-hari menjadi sulit dilakukan. Bergerak terasa berat, berjalan cepat membuatnya mudah kelelahan, dan melakukan pekerjaan sederhana yang bagi orang lain tampak biasa saja sering kali menjadi tantangan tersendiri baginya.
"Kalau dulu saya duduk di kursi, kaki saya kadang ikut menahan beban. Takut kursinya patah. Itu benar-benar saya rasakan. Orang mungkin menganggap sepele, tapi bagi saya itu jadi beban pikiran setiap hari," kenangnya.
Tidak hanya urusan kursi. Bahar mengaku saat itu hampir seluruh pakaiannya harus dibuat khusus karena ukuran yang tersedia di pasaran tidak lagi mampu mengakomodasi tubuhnya. Ukuran XXXL yang lazim dianggap besar ternyata masih belum cukup. Celana harus dipesan secara khusus, begitu pula dengan pakaian lainnya. Bahkan panjang gesper yang digunakannya mencapai sekitar dua meter.
Ia bercerita, semakin hari, tubuhnya semakin membatasi ruang geraknya. Ia mulai merasa kehilangan banyak hal yang dianggap normal oleh orang lain. Duduk dengan nyaman, berjalan jauh tanpa kelelahan, membeli pakaian tanpa harus memesan khusus, hingga sekadar bergerak bebas tanpa merasa sesak menjadi kemewahan yang sulit ia nikmati. Dalam titik tertentu, kondisi tersebut membuatnya hampir kehilangan harapan.
"Ada masa saya merasa putus asa. Karena saya tidak bisa melakukan banyak hal yang orang normal lakukan. Rasanya seperti hidup dibatasi oleh badan sendiri. Tapi di titik balik itu datang ketika rasa takut terhadap masa depan mulai mengalahkan kenyamanan hidup yang selama ini saya jalani," terangnya.
Bahar mengaku kerap menerima kiriman video maupun informasi mengenai dampak obesitas terhadap kesehatan. Awalnya hal tersebut justru membuatnya kesal. Ia merasa terganggu karena terus-menerus diingatkan tentang risiko kematian akibat berat badan berlebih. Tetapi seiring waktu, berbagai peringatan itu justru menjadi alarm yang tidak bisa lagi diabaikan. Bahar mulai mempelajari berbagai informasi mengenai obesitas dan komplikasi yang mengintai para penderitanya. Semakin banyak membaca, semakin besar pula kekhawatiran yang muncul dalam dirinya.
"Saya kadang jengkel juga, setiap hari selalu diperingati teman karena kondisi badan saya. Saya awalnya tidak peduli sampai suatu hari dokter langsung yang mengingatkan saya," tukasnya.
Kekhawatiran tersebut semakin menguat ketika ia memutuskan memeriksakan kondisi kesehatannya. Saat itulah berbagai tanda bahaya mulai bermunculan. Salah satunya ketika kadar gula darahnya sempat mencapai angka 216 setelah mengonsumsi makanan manis dalam jumlah besar. Angka itu menjadi sinyal yang membuatnya benar-benar tersentak. Tidak berhenti di situ. Pemeriksaan lain menunjukkan tekanan darahnya sempat menyentuh angka 180 per 110 mmHg meski dalam kondisi tidak melakukan aktivitas berat. Dokter juga mulai mengingatkan adanya risiko berbagai komplikasi serius apabila pola hidupnya tidak segera berubah.
"Saya mulai sadar. Kalau saya tidak melakukan sesuatu, bukan cuma berat badan yang jadi masalah. Saya bisa kena komplikasi. Bisa ke jantung, ginjal, hipertensi. Saya mulai berpikir bukan cuma tentang diri saya sendiri, tapi tentang keluarga saya. Kalau saya kena komplikasi, secara otomatis mendekatkan saya pada kematian di usia muda," tukasnya.
Bahar mengatakan, momen tersebut menjadi titik paling penting dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya ia benar-benar memahami bahwa kesehatan adalah sesuatu yang sangat mahal. Ia menyadari dirinya tidak hidup sendirian. Ada keluarga yang membutuhkan dirinya tetap sehat dan ada masa depan yang harus diperjuangkan. Dari situlah tekad untuk keluar dari obesitas mulai tumbuh. Bukan demi penampilan, bukan pula demi mendapatkan pujian orang lain. Ia ingin menyelamatkan hidupnya sendiri. Perjalanan itu ternyata jauh lebih berat daripada yang dibayangkannya.
"Pada minggu-minggu pertama menjalani pola hidup baru, saya mengalami masa yang sangat sulit. Tubuh saya yang selama puluhan tahun terbiasa mengonsumsi makanan berlebihan tiba-tiba dipaksa beradaptasi dengan pola makan baru. Kondisi itu sangat tidak enak, saya seperti orang yang sedang mengalami gejala putus ketergantungan. Setiap kali melihat makanan, keinginannya untuk makan muncul kuat. Kepala saya sering terasa pusing. Tubuh terasa lemas. Pikiran terus-menerus teringat makanan. Masa-masa awal diet sebagai periode paling berat yang pernah dijalani," tukasnya.
"Kalau saya menggambarkan waktu itu, rasanya seperti orang yang sedang sakau. Saya depresi. Bahkan saya suka berhalusinasi. Kepala pusing, badan tidak nyaman, pikiran terus mengajak makan. Berat sekali," ungkapnya.
Meski demikian, ia terus bertahan. Sedikit demi sedikit kebiasaan lama mulai dikurangi. Minuman manis yang dulu hampir selalu menemaninya diganti dengan air putih. Porsi nasi yang sebelumnya bisa berkali-kali tambah dipangkas secara drastis. Ia mulai menghitung kebutuhan kalori dan mempelajari konsep defisit kalori secara serius. Tidak ada jalan pintas yang digunakannya. Tidak ada obat pelangsing. Tidak ada produk penurun berat badan yang menjadi andalan. Padahal sebelumnya ia pernah mencoba berbagai produk tertentu dan sempat mengalami penurunan berat badan. Namun kali ini ia memilih jalur berbeda.
Lanjutnya, ia ingin membuktikan bahwa perubahan bisa dicapai melalui pola hidup yang disiplin dan berkelanjutan. Selain mengatur pola makan, Bahar juga mulai mempelajari berbagai metode puasa yang dikenal dalam dunia kesehatan. Ia memulai secara perlahan melalui intermittent fasting. Dari pola 12 jam puasa dan 12 jam makan, kemudian meningkat menjadi 14 jam, 16 jam, 18 jam, sampai 72 jam.
"Diet saya itu dilakukan bertahap agar tubuh memiliki kesempatan beradaptasi. Setelah merasa nyaman, ia mulai mencoba puasa yang lebih panjang dengan tetap mengonsumsi air putih. Puncaknya adalah ketika dirinya mampu menjalani water fasting selama 72 jam," bebernya.
Meski demikian, Bahar menegaskan seluruh proses tersebut dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Ia terus memantau kondisi tubuh dan memahami bahwa setiap orang memiliki kondisi kesehatan yang berbeda. Baginya, kunci utama keberhasilan bukanlah puasa ekstrem, melainkan kemampuan membangun kebiasaan baru yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
"Seiring berjalannya waktu, perubahan mulai terlihat. Berat badan saya turun perlahan namun konsisten. Tubuh yang sebelumnya terasa berat mulai menjadi lebih ringan. Aktivitas yang dahulu melelahkan kini dapat dilakukan dengan lebih mudah. Perubahan itu bukan hanya terlihat pada angka timbangan. Saya merasakan energi yang jauh lebih baik, kualitas hidup yang meningkat, serta kemampuan bergerak yang kembali ia nikmati setelah bertahun-tahun terbelenggu oleh obesitas," jelasnya.
Kini berat badannya berada di angka 87,7 kilogram. Artinya, lebih dari 62 kilogram berhasil ia turunkan dalam waktu sekitar enam bulan. Sebuah pencapaian yang bahkan sulit dipercaya oleh banyak orang yang mengenalnya. Meski berat badannya telah turun drastis, jejak perjuangan itu masih tersisa dalam bentuk kulit kendur yang menggantung di beberapa bagian tubuhnya. Namun Bahar tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang harus disembunyikan.
"Saya memilih membiarkan kulit tersebut apa adanya. Bagi saya, kulit yang tersisa itu adalah bukti nyata perjalanan panjang yang pernah yang saya lalui. Bukti bahwa saya pernah berada di titik terendah dan berhasil bangkit kembali. Itu pengingat buat saya. Bukti bahwa saya pernah gemuk ekstrem. Saya tidak malu menunjukkannya. Kalau itu bisa memotivasi orang lain untuk berubah, saya senang," katanya.
Kini olahraga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya. Hampir setiap hari ia berolahraga. Pada akhir pekan, aktivitas fisiknya bahkan bisa dilakukan hingga dua kali dalam sehari. Berkebun, berjalan kaki, dan berbagai aktivitas luar ruangan menjadi rutinitas yang membuat tubuhnya tetap aktif. Jika dulu ia lebih banyak menghabiskan waktu duduk setelah makan, kini ia memilih terus bergerak. Menurutnya, olahraga dan aktivitas fisik adalah pasangan yang tidak bisa dipisahkan dari pola makan sehat.
"Sekarang umur saya 38 tahun, saya kini seperti lahir kembali dan memiliki mimpi baru yang jauh lebih besar dibanding sekadar menurunkan berat badan. Saya ingin menjadi contoh bahwa obesitas bukanlah akhir dari segalanya. Bahwa perubahan tetap mungkin dilakukan selama seseorang memiliki kemauan untuk memulai," terangnya.
Diuraikanya, ingin mengajak lebih banyak orang yang mengalami obesitas untuk berani mengubah pola hidup sebelum terlambat. Bukan untuk mengejar tubuh ideal semata, melainkan untuk menyelamatkan kesehatan dan memperpanjang harapan hidup. Sehingga Bahar tahu persis bagaimana rasanya hidup dalam tubuh seberat 150 kilogram. Ia tahu bagaimana rasanya khawatir duduk di kursi, kesulitan bergerak, kehilangan kepercayaan diri, hingga takut menghadapi masa depan. Dan karena pernah berada di titik itu, ia ingin orang lain tidak perlu mengalami hal yang sama.
"Kalau saya yang dulu 150 kilogram bisa berubah, saya yakin orang lain juga bisa. Yang penting jangan menyerah. Mulai saja dulu. Pelan-pelan. Karena yang kita selamatkan sebenarnya bukan sekadar berat badan, tapi hidup kita sendiri," pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT