Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Tekanan Media Sosial Dinilai Picu Krisis Mental Remaja di Tarakan, Ini Penjelasan Penyuluh Agama

Eliazar Simon • Rabu, 27 Mei 2026 | 15:12 WIB
Penyuluh Agama Katolik Kota Tarakan, Mariam Usat 
Penyuluh Agama Katolik Kota Tarakan, Mariam Usat. ISTIMEWA

TARAKAN – Fenomena dugaan bunuh diri yang melibatkan kalangan remaja di Tarakan menjadi perhatian serius berbagai pihak. Tekanan sosial dan pengaruh media digital dinilai turut memperberat kondisi mental generasi muda saat ini.

Penyuluh Agama Katolik Kota Tarakan, Mariam Usat mengatakan, persoalan kesehatan mental remaja harus dipandang secara menyeluruh karena dipengaruhi banyak faktor, mulai dari lingkungan keluarga, pendidikan, hingga perkembangan media sosial.

“Fenomena ini sangat memprihatinkan dan perlu dilihat secara utuh baik dari sisi psikologis, keluarga, lingkungan sosial, pendidikan, hingga spiritualitas,” ujarnya.

Menurutnya, media sosial saat ini memberi tekanan besar terhadap kondisi psikologis remaja. Banyak anak muda merasa harus selalu tampil sempurna dan diterima lingkungan digital. Budaya perbandingan di media sosial membuat sebagian remaja mudah merasa minder, kecewa, hingga kehilangan rasa percaya diri ketika tidak mampu memenuhi ekspektasi tertentu.

“Generasi muda sering merasa harus selalu tampil baik dan diterima orang lain. Tekanan untuk mendapatkan pengakuan di media sosial dapat memicu kecemasan dan kelelahan mental,” katanya.

Selain itu, fenomena cyberbullying atau perundungan digital juga disebut menjadi ancaman serius bagi kesehatan mental anak muda. “Komentar negatif, hinaan, atau penyebaran konten yang mempermalukan seseorang bisa sangat memengaruhi kondisi emosional anak muda,” ungkapnya.

Mariam menjelaskan, tekanan mental pada remaja juga dipicu faktor lain seperti tuntutan akademik, konflik keluarga, kesepian, hingga rasa takut menghadapi masa depan. “Ketika gagal memenuhi ekspektasi, mereka mudah merasa kecewa dan tidak berharga,” ujarnya.

Karena itu, ia mengimbau keluarga dan lingkungan sekitar lebih peka terhadap perubahan perilaku remaja, termasuk jika mulai sering menyendiri, mengalami perubahan suasana hati drastis, hingga membuat unggahan bernada sedih di media sosial.

“Kesehatan mental remaja merupakan tanggung jawab bersama. Semua pihak perlu menciptakan lingkungan yang aman, peduli, dan mendukung perkembangan generasi muda,” pungkasnya. (zar/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#krisis mental #media sosial #tarakan #remaja