Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Peningkatan Industri Nasional Jadi Strategi Penguatan Rupiah, Ini Kata Akademisi Kaltara

Zakaria RT • Jumat, 15 Mei 2026 | 20:42 WIB
Akademisi Ekonomi UBT Kaltara, Dr. Margiyono, S.E., M.Si. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Akademisi Ekonomi UBT Kaltara, Dr. Margiyono, S.E., M.Si. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak cukup ditangani hanya melalui kebijakan jangka pendek, pemerintah bersama Bank Indonesia perlu mulai fokus membangun strategi jangka panjang melalui penguatan industri nasional dan pengurangan ketergantungan impor.

Hal tersebut diungkapkan Akademisi Ekonomi dari Universitas Borneo Tarakan (UBT) Dr Margiyono S.E, M.Si. Di mana kebutuhan impor Indonesia terhadap bahan bakar minyak (BBM), mesin industri, perangkat elektronik, besi baja hingga produk plastik masih sangat besar. Kondisi tersebut membuat kebutuhan dolar terus meningkat sehingga memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat industri dalam negeri agar mampu memproduksi berbagai kebutuhan tersebut secara mandiri. Dengan begitu, impor dapat ditekan secara bertahap dan ketergantungan terhadap dolar ikut berkurang.

“Harus ada kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan, bisa melalui subsidi bunga, bantuan likuiditas terhadap perbankan, termasuk tax holiday dari sisi fiskal sehingga impor kita terhadap BBM, mesin, elektronik, besi baja dan plastik itu menurun,” katanya, Jumat (15/5).

Margiyono menjelaskan, penguatan industri nasional tidak hanya berdampak pada penurunan impor, tetapi juga membuka peluang peningkatan ekspor. Ketika produk dalam negeri mampu bersaing di pasar internasional, maka permintaan terhadap rupiah juga akan meningkat.

Menurutnya, kebijakan penguatan industri akan lebih efektif apabila pemerintah dan Bank Indonesia bergerak bersama melalui stimulus fiskal maupun moneter. Dukungan tersebut dinilai penting untuk memperkuat daya saing industri nasional di tengah tekanan ekonomi global.

“Kalau kita tidak banyak impor berarti kita tidak perlu banyak dolar. Sebaliknya kalau ekspor meningkat maka rupiah akan lebih banyak dibeli,” ujarnya.

Ia menilai kondisi pelemahan rupiah saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998. Kenaikan kurs dolar terhadap rupiah sekarang disebut berlangsung secara perlahan selama beberapa tahun terakhir dan bukan lonjakan drastis dalam waktu singkat. Karena itu, pemerintah dinilai masih memiliki ruang untuk memperbaiki fundamental ekonomi nasional melalui kebijakan jangka pendek, menengah maupun panjang secara bersamaan.

“Nilai tukar rupiah menjadi Rp 17 ribu itu naiknya pelan-pelan selama dua sampai tiga tahun terakhir. Berbeda dengan 1998 yang langsung melonjak drastis dalam waktu singkat,” katanya.

Margiyono juga menyoroti pentingnya strategi substitusi impor dan transformasi energi nasional sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas rupiah dalam jangka panjang. Menurutnya, impor BBM masih menjadi salah satu penyebab tingginya kebutuhan dolar di Indonesia.

“Harus ada solusi jangka pendek, solusi jangka menengah seperti substitusi impor, dan juga transformasi energi karena impor BBM itu memang membutuhkan dolar sangat besar,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#nilai tukar rupiah #bank indonesia #rupiah #ekonomi