TARAKAN – Menjelang Iduladha, Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan mulai mewaspadai potensi kelangkaan MinyaKita di pasaran. Persediaan minyak goreng rakyat yang selama ini menjadi pilihan utama masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah dilaporkan terus menurun dan kini hanya tersisa sekitar 203 kemasan ukuran 1 liter.
Kondisi tersebut diungkapkan Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, serta Perdagangan (DKUKMP) Kota Tarakan, Jumanto, setelah pihaknya melakukan koordinasi dengan Perum Bulog Tarakan terkait perkembangan stok kebutuhan pokok masyarakat.
“Stok MinyaJita ini sisa sekitar 203 bungkus saja, sedikit sekali. stok yang tersisa saat ini tidak sepenuhnya dapat langsung didistribusikan ke pasar karena sebagian sudah dialokasikan untuk kebutuhan bantuan pangan. Akibatnya, distribusi ke sejumlah pasar tradisional dan toko ritel di Tarakan menjadi sangat terbatas,” ujarnya, Jumat (8/5).
"Sebenarnya ada rencana menyalurkan sisa stok tersebut ke Pasar Tenguyun dan Pasar Gusher untuk menjaga ketersediaan minyak goreng murah di tengah masyarakat. Tapi dengan jumlah yang sangat minim, pasokan itu diperkirakan tidak akan bertahan lama apabila permintaan masyarakat terus meningkat menjelang Iduladha. Kalau ini terus-terusan terjadi, apalagi menjelang hari raya, tentu bisa menjadi masalah juga,” ungkapnya.
Jumanto menjelaskan, tingginya permintaan masyarakat terhadap MinyaKita masih menjadi faktor utama cepat habisnya stok di lapangan. Selain harganya yang lebih murah dibanding minyak goreng premium, MinyaKita juga menjadi produk yang paling banyak dicari masyarakat karena dianggap lebih terjangkau di tengah kondisi ekonomi saat ini.
"Di sisi lain, keterlambatan distribusi dari luar daerah turut memperparah kondisi stok di Tarakan. Pasokan yang diharapkan masuk dalam beberapa waktu terakhir disebut belum tiba sesuai jadwal akibat kendala transportasi laut dan proses pengiriman barang. Distribusi dari luar memang agak terlambat. Ada kendala pengiriman kapal juga sehingga stok yang masuk belum maksimal,” katanya.
Diungkapkannya, pihaknya kini mulai mempertimbangkan masuknya minyak goreng merek lain sebagai alternatif agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Namun langkah tersebut dinilai memiliki konsekuensi terhadap harga jual di pasaran karena produk non-subsidi dijual lebih mahal dibanding MinyaKita. Masyarakat memang lebih mencari minyak yang murah karena ini subsidi,” tuturnya.
Ia mengatakan, kondisi saat ini masih terus dipantau pemerintah bersama Bulog dan distributor agar tidak berkembang menjadi kelangkaan berkepanjangan. Pemkot Tarakan juga berharap tambahan pasokan MinyaKita segera masuk sebelum Iduladha sehingga distribusi ke pasar kembali normal dan kebutuhan masyarakat tetap tercukupi.
Selain menjaga ketersediaan barang, pemerintah juga berupaya mengantisipasi kemungkinan lonjakan harga minyak goreng di pasaran akibat terbatasnya stok. Sebab apabila pasokan terus menurun sementara permintaan meningkat, harga minyak goreng non-subsidi dikhawatirkan ikut terdorong naik.
“Harapan kita pasokan baru bisa segera masuk supaya masyarakat tidak kesulitan mendapatkan minyak goreng menjelang Iduladha,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT