Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Harga Naik Bikin Penjualan Sapi Kurban di Tarakan Sepi Peminat

Zakaria RT • Kamis, 30 April 2026 | 19:11 WIB
SEPI : Harga tinggi bikin penjualan hewan kurban di Tarakan sepi pembeli. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
SEPI : Harga tinggi bikin penjualan hewan kurban di Tarakan sepi pembeli. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Terjadinya kenaikan harga sapi menjelang Iduladha ternyata tidak hanya berdampak pada pembeli, namun juga berdampak pada pedagang. Sehingga kondisi ini membuat pedagang mengaku mengalami penurunan omzet lantaran sepinya pembeli.

Padahal, menjelang Iduladha merupakan momentum pedagang ternak mampu menjual dagangannya berkali-kali lipat dari momen biasa. Oleh sebab itu para pedagang berharap adanya kontrol harga baik pada harga sapi maupun biaya pengiriman termasuk pajak.

Saat dikonfirmasi, Salah satu pedagang hewan ternak di Kota Tarakan Suginto menerangkan, jika biasanya dirinya sudah menjual ratusan ekor sebulan sebelum Idul Adha, namun kali ini dirinya baru menjual 20 ekor sapi. Meski diakuinya banyak calon pembeli yang datang, namun hanya sedikit orang yang jadi membeli lantaran harga yang dinilai mahal.

"Kenaikannya sekitar Rp 4 juta, paling murah itu Rp 18 juta naiknya menjadi Rp 20 juta, yang sebelumnya harganya Rp 20 Juta naik menjadi Rp 24 juta yang di bawah 100 kilogram, ada juga harga Rp 30 juta yang kisaran beratnya 150 kilogram dan yang Rp 45 juta yang beratnya 200 kilogram. Semuanya naik harga, sapi naik, pakan naik, biaya pengiriman naik, jadi mau tidak mau kami menjual menyesuaikan," ujarnya, Kamis (30/4).

"Kami sebenarnya tidak mau menaikkan harga cuma kalau tidak begitu kami tidak untung mungkin bisa rugi. Jadi mau tidak mau begitu lah harganya yang kami sampaikan, banyak juga orang yang tidak jadi beli karena harganya naik. Mau bagaimana lagi, kami berharap pemerintah bisa mengontrol harga dari distributor dan biaya akomodasi pengiriman supaya kami juga bisa menjualnya dengan harga terjangkau," sambungnya.

Diakuinya, perubahan harga ini membuat pedagang harus menyesuaikan perhitungan sejak awal, karena modal yang dikeluarkan jauh lebih besar dari biasanya. Sebagian besar sapi didatangkan melalui pemasok dari luar daerah, sehingga pedagang hanya mengikuti harga yang sudah terbentuk.

“Kita ini belinya dari sana memang sudah mahal, dari Gorontalo sana kan naik. Kalau ditanya kenapa naik, kita juga tidak tahu pasti. Mungkin di sana juga mahal, atau ada biaya-biaya lain, tapi yang jelas kita terima di sini sudah dalam kondisi harga tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, pembeli kini lebih berhati-hati dan cenderung mencari harga yang lebih rendah, sehingga transaksi tidak secepat biasanya. Perlambatan penjualan mulai terlihat dari jumlah transaksi yang terjadi hingga saat ini. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, jumlah sapi yang terjual masih jauh dari angka normal.

“Pengaruhnya besar sekali. Pembeli sekarang itu maunya yang murah. Jadi banyak yang datang lihat-lihat dulu, tanya-tanya harga, tapi belum tentu langsung beli. Kita juga tidak bisa memaksa, karena memang kondisinya begitu. Biasanya bulan-bulan begini kandang itu sudah setengahnya terisi, sudah banyak yang pesan," pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#tarakan #iduladha #hewan ternak #sapi kurban #hewan kurban