TARAKAN - Persoalan pengembangan Koperasi Merah Putih (KMP) di Kota Tarakan tak hanya berhenti pada keterbatasan anggaran. Minimnya pelibatan pengurus dalam perencanaan hingga sulitnya menjalin kerja sama dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi hambatan serius yang kini disuarakan pelaku koperasi di tingkat kelurahan.
Ketua Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Selumit sekaligus Koordinator KMP se-Tarakan, Saifullah mengungkapkan, selama ini pengurus hanya berperan sebagai penerima fasilitas tanpa dilibatkan dalam proses pembangunan maupun pengelolaan program. Bahkan, kata dia, tidak jarang pengurus diminta berkontribusi tenaga tanpa dukungan operasional yang jelas.
“Pengurus koperasi ini tidak dilibatkan dalam pembangunan. Kami hanya menerima fasilitas. Bahkan kami disuruh kerja bakti, menyumbang tenaga, sementara operasionalnya tidak jelas. Ini tentu tidak sehat kalau ingin koperasi berkembang,” ungkapnya, Minggu (26/4).
Selain itu, ia juga menyoroti sulitnya koperasi menjalin kerja sama dengan sejumlah BUMN yang beroperasi di Tarakan. Padahal, menurutnya, dukungan dari perusahaan-perusahaan tersebut sangat penting untuk memperkuat ekosistem usaha koperasi.
“Selama ini kami kesulitan. Contohnya kerja sama dengan Bulog untuk Rumah Pangan, itu tidak semua koperasi diberi akses, bahkan ada yang dilarang, ini yang jadi persoalan di lapangan. Padahal kami ingin semua kelurahan bisa berjalan. Jangan hanya beberapa saja yang diberi akses,” katanya.
Saifullah mencontohkan, saat ini hanya beberapa wilayah seperti Kelurahan Selumit dan Mamburungan yang dapat menjalankan program Rumah Pangan bekerja sama dengan Bulog. Sementara koperasi di kelurahan lain belum memperoleh kesempatan yang sama.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia mengusulkan skema konsinyasi barang dari BUMN kepada koperasi, bukan dalam bentuk pinjaman uang. Menurutnya, skema ini lebih realistis dan ringan bagi koperasi yang masih dalam tahap awal pengembangan.
“Kami tidak minta pinjaman uang. Kami minta konsinyasi barang. Jadi barang dititipkan, kami jual, dalam waktu tertentu kami bayar. Ini lebih ringan dan memungkinkan koperasi berkembang. Kami sudah komunikasi ke berbagai pihak, bahkan ke dinas terkait, tetapi belum ada solusi nyata. Sementara kami ingin koperasi ini benar-benar berjalan sesuai harapan,” ucapnya.
Meski menghadapi berbagai kendala, Saifullah tetap mengapresiasi sejumlah koperasi yang mulai menunjukkan perkembangan, seperti di Mamburungan dan Mamburungan Timur. Ia berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi contoh bagi wilayah lain.
Menurutnya, dukungan lintas sektor, terutama dari BUMN, menjadi kunci agar koperasi Merah Putih di Tarakan tidak sekadar menjadi program, melainkan benar-benar mampu menggerakkan ekonomi masyarakat di tingkat kelurahan.
“Alhamdulillah, Mamburungan sudah berjalan dengan baik, Mamburungan Timur juga mulai. Tapi masih banyak yang belum. Ini yang harus kita dorong bersama. Intinya kami minta BUMN yang ada di Tarakan ini membantu koperasi Merah Putih supaya bisa berjalan. Mau dengan skema kami bayar atau konsinyasi barang, itu saja. Yang penting koperasi ini hidup dan berkembang,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT