Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Harga Elpiji Non-Subsidi Naik Tipis, DPRD Tarakan Waspadai Peralihan ke Elpiji Subsidi 3 Kg

Zakaria RT • Jumat, 24 April 2026 | 17:07 WIB
ELPIJI NON-SUBSIDI: Penampakan elpiji di salah satu toko di Kota Tarakan. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
ELPIJI NON-SUBSIDI: Penampakan elpiji di salah satu toko di Kota Tarakan. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Kenaikan harga elpiji non-subsidi di Kota Tarakan memang terlihat kecil jika dihitung secara persentase, tetapi dampaknya dinilai tidak sesederhana angka di atas kertas. DPRD Tarakan mulai mengingatkan potensi perubahan perilaku masyarakat yang bisa memicu tekanan baru, terutama pada elpiji subsidi 3 kilogram yang kuotanya terbatas.

Ketua Komisi II DPRD Tarakan, Simon Patino mengatakan, lonjakan harga terjadi pada elpiji ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram, namun masih dalam kisaran rendah. Di tingkat pangkalan, elpiji 5,5 kilogram naik dari sekitar Rp 115 ribu menjadi Rp 120 ribu, sementara di ritel modern bisa mencapai Rp 135 ribu dari sebelumnya Rp 130 ribu, tergantung jalur distribusi.

“Kalau kita lihat angkanya memang kecil, hanya sekitar 3,7 sampai 4,1 persen untuk yang 5,5 kilogram. Untuk 12 kilogram juga sama, dari Rp 245 ribu jadi Rp 250 ribu, bahkan ada yang dari Rp 275 ribu jadi Rp 280 ribu. Jadi kalau dihitung-hitung kenaikannya itu memang hanya di kisaran 1,7 sampai 2 persen untuk yang 12 kilogram, tidak terlalu besar kalau dilihat dari persentasenya,” ujarnya, Jumat (24/4).

Meski persentasenya rendah, Simon menegaskan efek psikologis di masyarakat justru menjadi perhatian utama. Ia menilai, kata “naik” sering kali lebih berpengaruh dibanding besaran kenaikan itu sendiri dalam menentukan keputusan konsumsi.

“Yang kita khawatirkan itu bukan sekadar angkanya, tapi dampaknya di masyarakat. Begitu ada kata naik, itu sangat mempengaruhi. Walaupun sebenarnya kenaikannya kecil, tapi secara psikologis itu terasa besar. Bisa saja masyarakat berbondong-bondong beralih ke 3 kilogram, padahal kuota yang subsidi ini juga belum sepenuhnya aman dan harus dijaga,” tegasnya.

DPRD Tarakan pun berencana berkoordinasi dengan Pertamina guna memastikan distribusi elpiji subsidi tetap terkendali dan tidak terdampak lonjakan permintaan. Langkah ini dianggap penting agar ketersediaan energi rumah tangga, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pelaku usaha kecil, tetap terjamin di tengah dinamika harga. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#elpiji non subsidi #tarakan #elpiji #pertamina #dprd