TARAKAN – Menjelang Iduladha 2026, peternak sapi di Tarakan menghadapi situasi yang tidak mudah. Tingginya biaya produksi yang tidak sebanding dengan harga jual membuat usaha penggemukan ternak kian tertekan, terutama akibat masuknya sapi dari luar daerah dengan harga lebih rendah.
Ketua Koperasi Sahabat Maju Sejahtera, Syamsurijal mengungkapkan, peternak lokal membutuhkan waktu hingga satu tahun untuk menghasilkan sapi siap jual. Namun, harga pasar tidak berpihak karena adanya sapi dari luar yang dijual lebih murah.
“Normalnya Rp 25 juta, tapi sapi dari luar bisa Rp 23 juta dengan bobot sama. Ini jelas menekan kami,” ujarnya.
Dalam satu bulan, biaya pemeliharaan mencapai Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu per ekor. Jika dikalkulasikan dalam satu siklus, biaya yang dikeluarkan cukup besar, belum termasuk tenaga kerja dan risiko kematian ternak.
Di tengah kondisi tersebut, peternakan juga menjadi sumber penghidupan bagi tenaga kerja lokal. Setiap peternak rata-rata mempekerjakan empat hingga lima orang dengan upah sekitar Rp 4 juta per bulan.
“Kalau usaha ini tertekan, dampaknya juga ke tenaga kerja,” tambahnya.
Peternak berharap adanya kebijakan yang lebih berpihak, terutama dalam pengendalian harga dan perlindungan terhadap usaha lokal agar tetap mampu bertahan di tengah persaingan. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT