Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

TKA SMP di Tarakan Diikuti 3.271 Siswa, Ujian Digelar Bergelombang hingga 16 April

Zakaria RT • Selasa, 14 April 2026 | 15:39 WIB
Kepala Disdik Kota Tarakan Tamrin Toha. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Kepala Disdik Kota Tarakan Tamrin Toha. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SMP di Kota Tarakan resmi berjalan sejak 6 April dan dijadwalkan berakhir pada 16 April 2026. Sistem ujian berbasis komputer membuat pelaksanaan tidak dapat dilakukan serentak, sehingga setiap sekolah harus mengatur jadwal secara bergelombang sesuai ketersediaan perangkat.

Total sebanyak 3.271 siswa dari 26 sekolah, baik negeri maupun swasta, mengikuti TKA tahun ini. Seluruh satuan pendidikan diwajibkan berpartisipasi sebagai bagian dari kebijakan nasional dalam mengukur capaian akademik siswa.

“Karena ini berbasis komputer, maka pelaksanaannya tidak bisa serentak penuh. Misalnya satu sekolah hanya punya 20 komputer, berarti satu sesi hanya 20 siswa. Setelah itu baru dilanjutkan sesi berikutnya. Itu sebabnya waktunya cukup panjang sampai tanggal 16, walaupun ada sekolah yang bisa selesai lebih cepat,” jelas Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Tarakan, Tamrin Toha, Selasa (14/4).

Ia menyebut, skema bergelombang menjadi solusi agar seluruh peserta tetap dapat mengikuti ujian meski dengan keterbatasan sarana di masing-masing sekolah. Pengaturan ini juga dinilai memberi fleksibilitas bagi sekolah dalam menyesuaikan jadwal pelaksanaan.

Sementara itu, untuk jenjang SD, pelaksanaan TKA dijadwalkan mulai 20 April 2026 dengan jumlah peserta yang lebih besar, yakni sekitar 4.195 siswa dari 66 sekolah. Dengan skala yang lebih luas, persiapan teknis disebut harus dilakukan lebih matang agar pelaksanaan berjalan lancar.

“Untuk SD mekanismenya sama, berbasis komputer dan dilakukan bertahap sesuai kesiapan sarana di masing-masing sekolah. Jumlahnya memang lebih besar, jadi pengaturannya juga harus lebih matang. Bahasa Indonesia itu untuk melihat bagaimana anak memahami apa yang dia baca, itu literasi. Sedangkan Matematika bukan sekadar hitungan, tapi bagaimana mereka memahami konsep angka dalam konteks kehidupan sehari-hari. Jadi soal-soalnya berbasis narasi, menuntut kemampuan berpikir kritis,” jelasnya.

Tamrin menambahkan, hasil TKA nantinya akan menjadi salah satu indikator dalam proses SPMB, khususnya pada jalur prestasi akademik. Meski demikian, ia menegaskan bahwa penilaian tidak hanya bergantung pada TKA, melainkan tetap membuka ruang bagi prestasi non-akademik.

“Nanti nilai TKA ini akan menjadi salah satu indikator dalam jalur prestasi. Kalau nilainya bagus, tentu menjadi peluang bagi siswa untuk masuk ke sekolah yang diinginkan. Tapi ini bukan satu-satunya penentu. Kalau ada prestasi non-akademik, itu tetap bisa digunakan. Jadi tidak hanya TKA saja, tapi ini menjadi tambahan dalam penilaian,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#tes kemampuan akademik #tarakan #tka #pendidikan