Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Lonjakan Harga Plastik Tekan Distributor dan Pelaku Usaha di Tarakan

Zakaria RT • Selasa, 7 April 2026 | 17:18 WIB
MAHAL : Penampakan stok plastik di salah satu toko di Kota Tarakan. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
MAHAL : Penampakan stok plastik di salah satu toko di Kota Tarakan. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN — Lonjakan harga bahan baku plastik mulai menekan rantai usaha kemasan di Kota Tarakan. Dalam beberapa pekan terakhir, harga modal berbagai jenis plastik tercatat melonjak tajam bahkan menembus kenaikan lebih dari 50 persen, sehingga memaksa distributor menyesuaikan harga jual dan membuat pelaku usaha kecil mulai mengurangi pembelian.

Saat dikonfirmasi, Kepala Toko KA Mart (Kasih Anugerah Mart) Tarakan, Jery mengatakan, kenaikan harga yang terjadi saat ini, merupakan yang tertinggi sejak usaha distribusi kemasan tersebut beroperasi.

Ia menjelaskan, kenaikan modal datang langsung dari produsen sehingga distributor tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti harga baru dari pabrik. “Kenaikannya saat ini sangat signifikan, berada di kisaran 50 persen ke atas. Ini bukan lagi kenaikan harga biasa, tetapi harganya sudah terbang tinggi. Kami juga cukup terkejut karena lonjakannya sangat cepat,” ujarnya, Selasa (7/4)

Menurutnya, perubahan harga paling terasa saat proses pemesanan ulang barang dari produsen. Harga yang sebelumnya relatif stabil kini dapat berubah drastis dalam waktu singkat tanpa pemberitahuan lebih awal kepada distributor.

“Contohnya ada barang yang sebelumnya kami beli dengan harga sekitar Rp 500 ribu per karung. Ketika kami melakukan open order lagi, harganya sudah naik menjadi Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta per karung. Jadi selisihnya hampir dua kali lipat hanya dalam satu siklus pemesanan,” jelasnya.

Diungkapkannya, kenaikan harga tersebut terjadi seiring meningkatnya harga bahan baku plastik secara global. Industri plastik dalam negeri masih sangat bergantung pada bahan baku impor seperti resin dan turunan petrokimia, sehingga gangguan pasokan internasional langsung berdampak pada harga produksi.

Selain itu, gangguan distribusi bahan baku petrokimia dunia, termasuk nafta dan resin plastik, yang dipicu ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah turut mendorong produsen menaikkan harga jual kepada distributor. Kondisi ini kemudian merambat hingga ke daerah seperti Tarakan yang sebagian besar pasokan kemasan masih didatangkan dari luar daerah.

"Kenaikannya signifikan dan mau tidak mau kami jual menyesuaikan. Misalnya plastik gelas atau cup yang sebelumnya kami jual sekitar Rp 8 ribu per pak, sekarang sudah naik menjadi sekitar Rp 12 ribu. Kami sebenarnya berat menaikkan harga setinggi itu, tapi kalau tidak disesuaikan modal usaha tidak bisa berputar,” katanya.

Terpisah Zulnaini, pemilik Toko Raya Bersaudara di Jalan Bhayangkara mengungkapkan, kenaikan terjadi cukup signifikan. Untuk wadah makanan jenis thinwall misalnya, harga yang sebelumnya berkisar Rp 25 ribu per pak kini naik menjadi sekitar Rp 32 ribu dengan kualitas yang sama.

Ia menyebut, kenaikan tersebut tidak hanya terjadi pada satu jenis produk, tetapi hampir merata di berbagai lini kemasan. “Hampir semua lini produk kemasan mengalami kenaikan. Mulai dari cup, thinwall, hingga beberapa jenis plastik lainnya. Jadi memang kenaikannya merata,” ungkapnya, Selasa (7/4).

Dampaknya mulai terasa pada pola belanja pelanggan, terutama pelaku usaha kecil seperti penjual minuman dan makanan yang sangat bergantung pada kemasan plastik. Menurutnya, pelanggan kini tetap membeli, namun dalam jumlah yang lebih sedikit.

“Sekarang sudah mulai terasa, beberapa pelanggan membeli lebih sedikit dari biasanya. Mereka tetap beli, tapi volumenya dikurangi karena menyesuaikan dengan biaya produksi usaha mereka,” jelasnya.

Penurunan daya beli ini juga berimbas langsung pada omzet penjualan. Jika sebelumnya ia mampu menjual lebih dari 20 pak cup plastik per hari, kini jumlah tersebut merosot drastis, bahkan tidak mencapai 10 pak per hari.

“Kondisi ini jelas berpengaruh. Pembeli berkurang karena mereka juga menyesuaikan dengan kondisi usaha masing-masing,” katanya.

Zulnaini berharap harga kemasan plastik dapat segera kembali stabil agar tidak semakin membebani pelaku usaha, khususnya usaha kecil yang sangat bergantung pada bahan kemasan. “Harapan kami tentu harga bisa segera stabil kembali. Kalau terus naik seperti ini, kami khawatir daya beli masyarakat turun dan usaha kecil juga makin terbebani karena biaya produksi mereka ikut meningkat,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#harga plastik #plastik #kenaikan harga #Taraka