TARAKAN – Lonjakan harga bahan pangan menjelang Idulfitri 1447 Hijriah menjadi pemicu utama naiknya inflasi di Kalimantan Utara (Kaltara) pada Maret 2026. Meski masih dalam kategori terkendali, tekanan harga kebutuhan pokok mulai terasa di masyarakat.
Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara, inflasi tercatat sebesar 0,57 persen secara bulanan (mtm), meningkat dari Februari yang sebesar 0,47 persen. Secara tahunan, inflasi berada di angka 3,12 persen (yoy).
Kepala KPwBI Kaltara, Hasiando Ginsar Manik menjelaskan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi.
“Komoditas seperti cabai rawit, daging ayam ras, ikan bandeng, dan telur ayam ras mengalami kenaikan harga seiring meningkatnya permintaan menjelang Lebaran serta adanya keterbatasan pasokan,” ujarnya.
Secara wilayah, Kota Tarakan mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,63 persen (mtm), disusul Nunukan 0,53 persen dan Tanjung Selor 0,41 persen.
Kenaikan harga pangan ini dipicu tingginya konsumsi masyarakat saat Ramadan hingga menjelang Idulfitri. Di sisi lain, distribusi dan pasokan di beberapa daerah belum sepenuhnya stabil.
Meski demikian, tekanan inflasi tertahan oleh turunnya harga sejumlah komoditas. Emas perhiasan mengalami koreksi mengikuti harga global, sementara sayuran seperti sawi hijau dan kangkung turun akibat panen melimpah.
“Sinergi dengan pemerintah daerah dan TPID terus dilakukan untuk menjaga kestabilan harga dan pasokan,” tambahnya.
Ke depan, stabilitas pasokan pangan dinilai menjadi faktor kunci dalam menekan laju inflasi, terutama pada momen hari besar keagamaan. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT