TARAKAN – Pelaksanaan Operasi Ketupat Kayan 2026 di Tarakan berjalan relatif aman, namun menyisakan catatan penting pada aspek pengawasan, khususnya di sektor transportasi laut.
Kapolres Tarakan, AKBP Erwin Syaputra Manik menyoroti belum optimalnya sistem pengawasan di Pelabuhan Feri Juata yang hingga kini belum dilengkapi kamera pengawas (CCTV) dan fasilitas pendukung lainnya.
“Pelabuhan Juata ini jalur vital, tapi belum ada CCTV dan rest area. Ini menjadi perhatian serius ke depan,” ujarnya.
Menurutnya, ketiadaan CCTV membuka celah pengawasan, terutama di tengah meningkatnya arus mudik dan balik selama operasi berlangsung. Kondisi ini dinilai berisiko terhadap potensi tindak kriminal, termasuk peredaran narkotika dan tindak pidana perdagangan orang.
“Tarakan ini daerah transit, sehingga pengawasan harus diperkuat. CCTV sangat penting untuk memantau aktivitas keluar masuk penumpang,” jelasnya.
Sebagai pembanding, saat ini fasilitas pengawasan berupa mesin X-ray telah tersedia di Pelabuhan Internasional Malundung. Keberadaan alat tersebut dinilai cukup efektif dalam mendeteksi barang bawaan penumpang.
“X-ray ini sangat membantu dalam pengawasan, terutama untuk mencegah masuknya barang terlarang,” katanya.
Selama 13 hari pelaksanaan operasi, kepolisian mengintensifkan pengawasan di berbagai titik strategis, baik di pelabuhan maupun bandara. Hasilnya, tidak ditemukan kejadian menonjol yang mengganggu keamanan secara luas.
Meski demikian, Polres Tarakan menilai penguatan sistem pengawasan berbasis teknologi menjadi kebutuhan mendesak, seiring tingginya mobilitas masyarakat dan posisi Tarakan sebagai daerah perlintasan. “Ke depan ini harus menjadi perhatian bersama agar pengawasan lebih maksimal,” tegasnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT