TARAKAN - Pasca momentum Idulfitri 1447 H, Tempat Pemerosesan Akhir (TPA) Juata Kerikil dilaporkan mengalami peningkatan masuknya jumlah sampah dengan signifikan dibanding hari-hari biasa. Sehingga kondisi membuat DLH Tarakan cukup kewalahan dalam mengatur sampah yang masuk ke TPA.
Kepala Bidang Pengolahan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan, Yohanis K. Patongloan mengatakan, peningkatan volume sampah pada masa Lebaran mencapai sekitar 25 persen dari kondisi normal harian.
Ia menjelaskan, pada hari biasa jumlah sampah yang masuk ke TPA rata-rata berada di angka sekitar 110 ton per hari. Namun saat momentum Lebaran, jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 125 ton per hari.
“Jadi sekitar 125 ton per hari. Bahkan pada puncaknya kemarin sempat mencapai sekitar 130 ton,” ujarnya, Jumat (25/3).
Menurutnya, peningkatan volume sampah ini didominasi oleh sampah rumah tangga. Hal tersebut sejalan dengan meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat selama perayaan Idulfitri, mulai dari kegiatan memasak, jamuan keluarga, hingga penggunaan kemasan makanan.
"Beberapa tempat pembuangan sementara (TPS) bahkan sempat mengalami penumpukan. Salah satunya terjadi di Kelurahan Sebengkok yang sempat meluber hingga ke jalan. Tapi petugas secara bertahap berhasil mengangkut sampah menuju TPA," katanya.
Selain peningkatan volume sampah, DLH juga menghadapi tantangan terkait kapasitas penampungan di lokasi TPA. Yohanis menyebutkan, lahan TPA yang dimiliki Pemerintah Kota Tarakan sebenarnya cukup luas, yakni sekitar 50 hektare. Namun area yang saat ini aktif digunakan sebagai shelter pembuangan hanya sekitar setengah hektare.
"Area itu sudah hampir penuh setelah digunakan untuk menampung sampah dalam beberapa waktu terakhir. Shelter yang kita gunakan sekarang luasnya sekitar setengah hektare dan saat ini sudah penuh. Tapi sesuai aturan dari Kementerian Lingkungan Hidup, tinggi timbunan sampah maksimal 15 meter,” ungkapnya.
Diungkapkannya, untuk memaksimalkan penampungan, pihaknya melakukan penataan dengan metode penimbunan dan perataan secara berkala. Setelah timbunan mencapai ketinggian tertentu, area tersebut akan diratakan dan ditutup dengan tanah sebelum digunakan kembali. Lanjutnya, dengan sistem tersebut, Yohanis memperkirakan daya tampung yang ada masih dapat digunakan sementara waktu.
“Untuk sementara ini masih aman mungkin sekitar tiga sampai empat bulan ke depan. Mudah-mudahan tahun ini juga ada pembangunan shelter baru dari PUPR di samping lokasi yang sekarang,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT