Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Pelaksanaan Rangkaian Nyepi di Tarakan Berjalan Khidmat, Serukan Harmoni “Satu Bumi Satu Keluarga”

Zakaria RT • Kamis, 19 Maret 2026 | 13:37 WIB

 

KHIDMAT: Ratusan Umat Hindu Tarakan melaksanakan ibadah Tawur Agung Kesanga.
KHIDMAT: Ratusan Umat Hindu Tarakan melaksanakan ibadah Tawur Agung Kesanga.

TARAKAN - Ratusan Umat Hindu di Kota Tarakan melaksanakan rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dengan penuh kekhusyukan di Pura Agung Giri Jagatnatha, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Tarakan Barat pada Rabu (18/3) malam. Prosesi ibadah berjalan lancar dan khidmat.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Tarakan, I Gusti Ngurah Arnata menjelaskan, perayaan ini tak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga momentum memperkuat nilai persaudaraan universal. Rangkaian Nyepi diawali dengan ritual Melasti penyucian diri dan alam. Selanjutnya, umat Hindu melaksanakan Tawur Agung Kesanga yang diawali prosesi pecaruan.

Dikatakannya, bahwa rangkaian Nyepi telah dimulai sejak pelaksanaan ritual Melasti pada 15 Maret 2026 di kawasan Pantai Amal. Prosesi ini menjadi simbol penyucian diri sekaligus alam semesta sebelum memasuki puncak perayaan.

“Maknanya adalah pembersihan alam semesta beserta isinya, sebelum nanti dilanjutkan dengan penyucian diri saat Hari Nyepi,” ujarnya, Rabu (18/3) malam.

Lanjutnya, setelah Melasti, umat Hindu melanjutkan dengan pelaksanaan Tawur Agung Kesanga yang diawali prosesi pecaruan. Ritual ini menjadi bagian penting dalam konsep keseimbangan alam atau bhuwana agung.

Ia mengungkapkan jia dalam pelaksanaan pecaruan tahun ini digunakan sarana mecaru eka sata, yakni persembahan satu ekor ayam berwarna brumbun yang merupakan perpaduan lima warna sebagai simbol keseimbangan unsur alam.

“Melalui pecaruan, kita diajak menjaga hubungan baik, tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan makhluk lain dan alam,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Hindu Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tarakan, I Nengah Pariana menerangkan, pelaksanaan ibadah di luar area pura sebagai bentuk simbolisasi harmonisasi hubungan manusia dengan seluruh ciptaan Tuhan.

Nilai ini, menurutnya, menjadi landasan penting dalam kehidupan sosial yang damai dan seimbang. Memasuki puncak Hari Nyepi, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian yang terdiri dari amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelanguan (tidak mencari hiburan), dan amati lelungan (tidak bepergian). Praktik ini bukan sekadar menahan aktivitas, melainkan juga bentuk pengendalian diri secara menyeluruh.

“Maknanya bukan sekadar menahan aktivitas, tetapi mengendalikan emosi, menekan keinginan, serta merenungi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.

Adapun tema Nyepi tahun ini mengangkat nilai “Vasudhaiva Kutumbakam” yang berarti satu dunia adalah satu keluarga. Tema ini dinilai relevan dalam kondisi masyarakat yang majemuk, termasuk di Kota Tarakan yang dihuni berbagai suku, agama, dan budaya.

“Pesannya jelas, kita semua berasal dari Tuhan yang sama. Tidak perlu ada perpecahan, mari saling menghargai dan hidup harmonis,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#nyepi #tarakan #hindu