Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Jelang Lebaran, BPOM Tarakan Imbau Masyarakat Tidak Beli Kosmetik Ilegal

Zakaria RT • Minggu, 15 Maret 2026 | 17:05 WIB

 

Kepala BPOM Tarakan Iswadi
Kepala BPOM Tarakan Iswadi

TARAKAN — Menjelang Hari Raya Idulfitri setiap orang berusaha tampil cantik dan genteng dengan berbagai upaya. Mulai dari ke memilih pakaian yang pas, melakukan perawatan ke salon hingga memilih kosmetik yang dapat memberikan dampak yang diharapkan untuk wajah.

Sehingga hal ini tak jarang membuat masyarakat kerap terbuai dengan produk yang menjanjikan kecantikan dengan harga terjangkau. Salah satunya kosmetik ilegal. Namun di balik harga yang ramah di kantong serta iming-iming kecantikan instan, kosmetik ilegal mengandung bahan berbahaya yang dapat merusak wajah secara permanen bahkan dapat menyebabkan kanker.

Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Tarakan, Iswadi mengatakan, pihaknya mengimbau agar masyarakat tidak mudah terbuai dengan kosmetik ilegal yang menawarkan kecantikan instan serta harga terjangkau. Sehingga ia mengimbau kepada masyarakat agar dapat memperhatikan legalitas produk sebelum membeli atau menggunakannya. Mengingat kata dia, saat ini cukup banyak jenis produk kosmetik yang bertebaran di pasaran.

"Kami mengimbau agar masyarakat dapat selektif saat membeli produk kosmetik dengan melakukan pengecekan legalitas. Kami berharap masyarakat tidak terbuai iming-iming cantik dengan instan dan harga terjangkau karena resiko kesehatan yang besar. Oleh sebab itu, penting bagi masyarakat memilih kosmetik yang memiliki legalitas yang telah teruji dan ditanyakan aman untuk kesehatan," ujarnya, Minggu (15/3).

"Biasanya momentum seperti ini yang dimanfaatkan oknum pelaku usaha kosmetik ilegal untuk memasarkan produknya besar-besaran. Mereka paham menjelang hari raya masyarakat memiliki uang dan mencari produk yang membuat penampilan mereka berubah secara instan," sambungnya.

Diungkapkannya, perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu faktor meningkatnya peredaran kosmetik yang tidak memenuhi standar keamanan. Menurutnya, berbeda dengan produk pangan yang masih banyak dibeli langsung di toko, pembelian kosmetik kini didominasi melalui platform online.

“Kalau pangan mungkin masih sekitar 90 persen orang beli langsung di toko. Tapi kosmetik ini sudah sangat besar pergeserannya, mungkin 70 sampai 80 persen dibeli secara online. Sebenarnya membeli produk secara online bukan sesuatu yang salah. Justru memudahkan masyarakat untuk belanja. Tapi di samping itu juga masyarakat harus hati-hati memastikan apakah produk tersebut resmi diawasi BPOM atau tidak," urainya.

Ia menilai, maraknya kosmetik berbahaya juga tidak lepas dari persepsi sebagian masyarakat yang menganggap kulit putih sebagai standar kecantikan. Padahal, menurutnya, warna kulit masyarakat Asia Tenggara secara alami cenderung sawo matang.

“Banyak yang ingin putih secara instan. Padahal kulit kita ini sawo matang. Kalau dipaksakan menjadi putih permanen dengan kosmetik, itu biasanya menggunakan bahan kimia berbahaya,” jelasnya.

Lanjutnya salah satu bahan yang kerap ditemukan dalam kosmetik ilegal adalah merkuri. Bahan ini memang dapat memberikan efek kulit terlihat putih dan mengkilap dalam waktu singkat, namun sangat berbahaya jika digunakan dalam jangka panjang. Selain merkuri, terdapat pula sejumlah zat kimia lain yang sering disalahgunakan dalam produk kosmetik ilegal, seperti asam retinoat, resorsinol, hingga Rhodamin B yang sebenarnya merupakan pewarna tekstil.

“Kalau pakai merkuri di awal memang putih mengkilat. Tapi itu berbahaya. Dalam jangka panjang bisa merusak kulit bahkan berdampak ke kesehatan tubuh. Selama ini banyak masyarakat sering keliru memahami fungsi kosmetik. Kosmetik pada dasarnya hanya berfungsi memperindah atau menutupi sementara, bukan mengubah kondisi kulit secara permanen,"tegasnya.

“Misalnya kita pakai bedak putih. Setelah dicuci, harusnya kembali ke warna kulit asli. Kalau ada kosmetik yang bisa mengubah warna kulit permanen, biasanya ada bahan berbahaya di dalamnya,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kosmetik sebenarnya sangat luas cakupannya. Produk yang sehari-hari digunakan masyarakat seperti sabun, pasta gigi, sampo, deodoran, minyak rambut hingga parfum juga termasuk kategori kosmetik.

“Bahkan laki-laki pun minimal lima kali terpapar kosmetik setiap hari. Sabun, odol, sampo, deodoran, minyak rambut, itu semua kosmetik. Karena itu, tingginya kebutuhan masyarakat terhadap produk kosmetik sering dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk menjual produk ilegal. Tapi perlu digarisbawahi produk berbahaya tidak selalu identik dengan harga murah. Ada juga produk yang berkualitas resmi dan harganya terjangkau," pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#tarakan #kosmetik ilegal #bpom