Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Kurangi Sampah Plastik Selama Ramadan, Ini Imbauan DLH Tarakan

Zakaria RT • Jumat, 27 Februari 2026 | 14:34 WIB

Kepala DLH Tarakan Andry Rawung
Kepala DLH Tarakan Andry Rawung

TARAKAN – Lonjakan sampah plastik setiap Ramadan kembali menjadi alarm bagi pengelolaan lingkungan di Kota Tarakan. Kebiasaan belanja takjil dengan kantong sekali pakai dinilai memperparah timbunan sampah harian yang sulit terurai. Hal tersebut terbukti dari nyaris penuhnya Tempat Pemerosesan Akhir (TPA) Juata Kerikil, meski TPA tersebut baru seumur jagung. Sehingga hal tersebut membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengimbau masyarakat agar membawa tas sendiri saat berbelanja selama Ramadan.

Kepala DLH Tarakan, Andry Rawung menegaskan, pihaknya mengimbau masyarakat membawa tas kain maupun wadah makanan sendiri saat berburu takjil. Menurutnya, langkah sederhana itu bisa secara signifikan menekan penggunaan kantong plastik selama bulan puasa.

“Tidak hanya tas kain, mungkin wadah plastik atau rantang kecil bisa dibawa ke mana-mana. Bisa ditaruh di jok motor, di kantong, atau di laci mobil,” ujarnya, Jumat (27/2).

Andry menjelaskan, setiap Ramadan produksi sampah di Tarakan mengalami peningkatan, terutama sampah plastik dari kantong belanja dan kemasan makanan. Meningkatnya aktivitas jual beli takjil serta bertambahnya pedagang musiman di pinggir jalan menjadi faktor utama penyumbang lonjakan tersebut.

“Setiap Ramadan memang ada peningkatan, dan sebagian besar karena sampah makanan serta kantong plastik. Sampah makanan masih bisa diolah jadi pupuk atau pakan ternak. Tapi kantong plastik ini yang sulit diapa-apakan,” katanya.

Ia menilai, penggunaan plastik sering kali terjadi secara spontan. Banyak warga yang awalnya tidak berniat belanja, namun tergoda saat melihat jajanan di jalan dan akhirnya membeli tanpa membawa wadah sendiri. Sehingga kebiasaan kecil tersebut menambah produksi sampah plastik di masyarakat.

“Kalau kita keluar sudah bawa tas kain dan wadah plastik, setiap mau belanja tidak perlu kantong plastik lagi. Jadi ini soal kebiasaan saja,” tuturnya.

Meski demikian, DLH tidak melarang penggunaan kantong plastik secara mutlak. Andry mengakui ada kondisi tertentu yang memang tidak memungkinkan menggunakan tas kain atau wadah makanan, seperti membeli ikan, udang, kepiting, tepung, atau barang lain yang berisiko bocor dan membutuhkan kemasan khusus.

“Kalau memang tidak memungkinkan, mau tidak mau pakai plastik. Tidak semua barang bisa dimasukkan ke tas kain atau wadah plastik. Jadi ini bukan pelarangan, tapi pengurangan,” jelasnya.

Ia menegaskan, tujuan utama imbauan tersebut adalah mengurangi, bukan menghilangkan sepenuhnya peredaran plastik. DLH juga terus mengkampanyekan perubahan perilaku masyarakat, meski diakuinya masih banyak yang bersikap apatis terhadap isu lingkungan.

Sebagai bentuk komitmen, Andry mengaku telah lebih dulu membiasakan diri membawa tas kain dan wadah makanan setiap bepergian. “Ini soal kesadaran bersama. Kita hanya bisa mengajak dan memberi contoh. Saya pribadi sudah beberapa bulan ini selalu bawa tas yang dilipat, Jadi kalau di jalan ada yang mau dibeli, tidak perlu lagi kantong plastik. Meski hanya kebiasaan kecil, kalau itu dilakukan banyak orang dampaknya akan luar biasa,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#tarakan #dinas lingkungan hidup #DLH #ramadan #sampah plastik