TARAKAN – Keamanan takjil yang beredar selama Ramadan tidak boleh dianggap sepele. Untuk memastikan masyarakat terhindar dari pangan yang mengandung zat berbahaya, Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Tarakan menjadwalkan uji sampel takjil di sejumlah titik penjualan di Kota Tarakan dalam waktu dekat.
Kepala BPOM Tarakan, Iswadi menegaskan, pengambilan sampel takjil merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun, tidak hanya di Tarakan tetapi juga secara nasional oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Langkah ini bertujuan memastikan bahan makanan yang dijual kepada masyarakat aman dikonsumsi dan tidak mengandung zat kimia berbahaya.
“Kami ingin memastikan bahan makanan pada takjil tidak mengandung formalin, boraks, rhodamine B, dan methanyl yellow. Bahan-bahan ini jelas dilarang karena dampaknya sangat berbahaya bagi tubuh,” ujarnya, Selasa (24/2).
Ia menjelaskan, pengujian akan dilakukan di beberapa titik pusat penjualan takjil di Tarakan. Jadwal pelaksanaan masih akan dikoordinasikan, namun titik-titik sampling sudah mulai ditentukan dan hasilnya wajib dilaporkan ke pusat.
“Pengambilan sampel ini rutin setiap tahun. Minimal kami sudah menentukan beberapa titik untuk dilakukan sampling dan uji, dan hasilnya harus kami laporkan ke pusat,” katanya.
Iswadi menambahkan, pengambilan sampel dilakukan secara acak (random) di sejumlah lokasi. Selain menguji kandungan bahan makanan di laboratorium, petugas juga akan menggali informasi dari pedagang terkait proses pengolahan makanan.
“Nanti petugas akan bertanya, misalnya dimasak berapa lama, pakai air apa, wadah adonannya apa, dimasak dengan apa. Ini untuk kebutuhan analisis kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kami harap pedagang koperatif,” jelasnya.
Menurutnya, selama ini dalam riwayat pemeriksaan BPOM Tarakan belum pernah menemukan pedagang takjil di Tarakan yang menggunakan bahan berbahaya. Namun demikian, BPOM tidak bisa menjamin seluruh takjil yang beredar benar-benar terbebas dari zat terlarang, mengingat pengujian dilakukan berdasarkan sampel di beberapa titik saja.
“Riwayat BPOM Tarakan melakukan pengujian memang belum pernah menemukan bahan berbahaya. Tapi kami tidak bisa menjamin seluruh takjil di Tarakan bebas sepenuhnya, karena pengambilan sampel terbatas. Tahun ini kami upayakan menjangkau lebih banyak titik,” terangnya.
Diungkapkannya, sebagai gambaran pada pengambilan sampel tahun lalu di sepanjang Jalan Diponegoro, Kelurahan Sebengkok, hasil uji menunjukkan tidak ditemukan kandungan bahan kimia berbahaya pada takjil yang diperiksa.
Iswadi menegaskan, jika bahan kimia berbahaya dalam makanan dapat menimbulkan efek jangka panjang bagi kesehatan. Konsumsi berulang dalam waktu lama berisiko memicu berbagai penyakit serius seperti tumor hingga kanker.
"Kami berkomitmen terus mengawal keamanan pangan selama Ramadan dan menjelang Idulfitri. Kami juga mengimbau pelaku usaha pangan mematuhi peraturan perundang-undangan agar dapat menyediakan makanan yang aman dan layak konsumsi bagi masyarakat. Keamanan pangan adalah tanggung jawab bersama. Kami ingin masyarakat bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang tanpa khawatir terhadap keamanan makanan yang dikonsumsi,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT