TARAKAN - Semakin maraknya aksi kriminal di Kota Tarakan. Membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan mengebangkan keberadaan CCTV. Namun demikian, hasrat tersebut dibatasi dengan terbatasnya anggaran dalam pengadaan CCTV. Sehingga Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (DKISP) Tarakan membuka peluang kolaborasi dengan RT untuk memperkuat pengawasan lingkungan hingga ke wilayah rawan.
Kepala DKISP Tarakan, Endah Sarastiningsih mengatakan, pengelolaan CCTV secara teknis saat ini berada di bawah UPT TCC (Tarakan Command Center). Hingga kini, jumlah CCTV yang terpasang baru mencapai 29 titik dan belum merata di seluruh wilayah kota. Menurutnya, keterbatasan listrik dan jaringan internet menjadi kendala utama dalam penambahan titik baru. Setiap pemasangan harus dipastikan tersambung dengan arus listrik serta jaringan internet pemerintah daerah agar terintegrasi dengan pusat pemantauan.
“Kalau internetnya belum terkover jaringan pemerintah, otomatis kita harus siapkan anggaran tambahan. Itu yang membuat pemasangan tidak bisa sembarangan. Di sepanjang 2025, kami menambah tiga titik CCTV. Dua di antaranya berada di kawasan Markoni, tepatnya di perempatan lampu lalu lintas yang cukup padat. Satu titik lainnya di pertigaan Intraca masih dalam tahap penentuan posisi agar jangkauan kamera maksimal," ujarnya, Jumat (20/2).
"Untuk tahun 2026, penambahan CCTV masih diupayakan melalui perubahan anggaran. Namun di tengah keterbatasan fiskal, kami mulai mendorong partisipasi masyarakat melalui RT. Kami ingin berkolaborasi dengan RT. Minimal satu titik di wilayah yang dianggap rawan. Ini bisa jadi uji coba,” sambungnya.
Diungkapkannya, skemanya pengadaan dapat melibatkan swadaya masyarakat, sementara sistem pemantauan tetap terhubung dengan TCC yang beroperasi 24 jam. Dengan pola ini, diharapkan cakupan CCTV dapat diperluas tanpa sepenuhnya bergantung pada APBD. Dikatakannya, permintaan pemasangan CCTV juga datang dari wilayah Selumit Pantai. Namun wilayah tersebut terkendala jaringan internet yang belum terjangkau sepenuhnya, sehingga membutuhkan tambahan infrastruktur sebelum pemasangan dilakukan.
"Dukungan masyarakat terhadap pemasangan CCTV cukup tinggi karena berkaitan langsung dengan keamanan lingkungan, termasuk pencegahan pencurian hingga penanganan kebakaran dan sebagainya," jelasnya.
“Kalau listrik mungkin masih bisa kita atur, tapi internetnya itu yang harus kita pikirkan. Karena kalau tidak tersambung ke sistem kita, ya percuma,” tegasnya.
Ia menambahkan, aspek keamanan perangkat juga menjadi perhatian. CCTV harus dipasang di titik tinggi agar aman dari pencurian dan memiliki sudut pandang luas. Dengan berbagai pertimbangan teknis tersebut, perluasan CCTV di Tarakan memang tidak bisa instan.
"Kami memastikan komitmen memperkuat sistem pengawasan kota tetap berjalan. Kolaborasi dengan RT diharapkan menjadi jalan tengah agar kebutuhan keamanan masyarakat dapat terpenuhi, tanpa sepenuhnya bergantung pada keterbatasan fiskal pemerintah daerah," pungkasnya. (zac/jnr).
Editor : Januriansyah RT