TARAKAN – Duka menyelimuti misi distribusi BBM satu harga ke wilayah perbatasan Krayan. Setelah sempat tertunda akibat cuaca buruk, proses evakuasi jenazah Captain Hendrik Ludwig Adam, pilot Pelita Air yang gugur dalam kecelakaan pesawat kargo, akhirnya berhasil diterbangkan ke Tarakan, Jumat (20/2).
Komandan Lanud Anang Busra, Marsma TNI Andreas A. Dhewo mengatakan, pesawat pengangkut jenazah mendarat di Tarakan pukul 12.25 WITA setelah lepas landas dari Long Bawan pukul 11.38 WITA.
“Pagi tadi pesawat berangkat dari Tarakan pukul 10.20 WITA menuju Long Bawan dan tiba pukul 11.10 WITA. Setelah kembali, jenazah langsung dibawa ke tempat pemulasaran di Gunung Lingkas Aci,” ujarnya.
Selanjutnya, jenazah dijadwalkan diterbangkan ke Jakarta menggunakan maskapai Batik Air sekitar pukul 14.35 WITA untuk diserahkan kepada pihak keluarga di Bogor. Jadwal pemakaman menunggu keputusan keluarga.
Pesawat jenis Air Tractor AT-802 registrasi PK-PAA yang dikemudikan korban sebelumnya menjalankan tugas mendistribusikan BBM program satu harga di wilayah Krayan. Usai menyalurkan bahan bakar di Long Bawan, pesawat lepas landas dari runway 22 untuk kembali ke Tarakan. Namun nahas, pesawat mengalami kecelakaan sesaat setelah take off.
Captain Hendrik merupakan satu-satunya awak di dalam pesawat dan dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian. Proses evakuasi jenazah tidak berjalan mulus. Cuaca buruk di Long Bawan menjadi kendala utama dengan jarak pandang hanya 500 meter dan base cloud sekitar 1.000 feet.
“Kami menunggu sampai cuaca memungkinkan untuk terbang. Setelah visibility mencapai sekitar 4.500 meter, baru pesawat bisa lepas landas dengan aman,” jelas Andreas.
Perubahan skema evakuasi juga dilakukan demi efektivitas waktu. Rencana awal membawa jenazah langsung dari Krayan menuju Balikpapan menggunakan pesawat Pelita Air dibatalkan.
“Pertimbangan maskapai, lebih cepat dari Tarakan langsung ke Jakarta menggunakan Batik Air,” tambahnya.
Sebelumnya, General Manager AirNav Indonesia Cabang Tarakan, Dheny Purwo Hariyanto, menjelaskan penerbangan pesawat PK-PAA berlangsung dalam layanan AFIS (Aerodrome Flight Information Service).
Dalam status tersebut, keputusan terbang sepenuhnya berada pada pilot in command. Sebelum kontak hilang, pilot sempat menyampaikan estimasi waktu tiba di Malinau pukul 12.24 WITA dan Tarakan pukul 13.15 WITA. Evakuasi melibatkan koordinasi berbagai unsur, mulai dari TNI AU, Basarnas, AirNav, pihak maskapai hingga instansi terkait lainnya.
“Sejak awal kami mendukung penuh proses evakuasi. Alhamdulillah berjalan lancar hingga jenazah bisa segera diberangkatkan ke Jakarta,” tutup Andreas. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT