TARAKAN – Lima belas pedagang kaki lima (PKL) yang terjaring razia oleh Satpol PP Tarakan di sekitar area Tugu 99 Bandara Juwata Tarakan beberapa waktu lalu, kini mengadukan nasibnya lantaran tak lagi bisa berjualan di area tersebut. Sehingga kondisi ini membuat para pedagang mengaku tidak bisa mencari nafkah lantaran takut ditertibkan kembali.
Saat dikonfirmasi, Koordinator PKL di area Tugu 99, Chandra menerangkan, para PKL tidak menolak upaya penertiban yang dilakukan pemerintah, namun meminta agar penataan tersebut disertai solusi berupa lokasi relokasi yang jelas sehingga para pedagang tetap bisa mencari nafkah.
“Kami berharap bisa diakomodir dan disiapkan tempat untuk berjualan. Kami siap bekerja sama dengan pemerintah, menjaga kebersihan dan ketertiban," ujarnya, Senin (9/2).
Ia menjelaskan, penertiban dilakukan di sepanjang area dari sekitar rambu penunjuk arah hingga ujung jembatan menuju Bandara Juwata Tarakan. Jumlah pedagang yang terdampak penertiban tersebut sekitar 15 orang. Akibatnya, para PKL terpaksa menghentikan aktivitas jualan karena tidak adanya lokasi alternatif.
"Sementara kami memilih tidak berjualan sebagai bentuk kepatuhan terhadap aturan. Tapi kondisi itu membuat kami kebingungan karena belum ada kejelasan tempat pengganti. Untuk sementara kami masing-masing mencari tempat yang dirasa nyaman,” katanya.
Saat disinggung jika ia dan rekannya seandainya direlokasi ke kawasan kuliner bangayo yang berada di Kelurahan Karang Anyar Pantai, ia menegaskan tentunya cukup sulit lantaran perbedaan potensi di setiap lokasi.
Menurutnya area Tugu 99 Bandara merupakan kawasan strategis yang tentunya terdapat banyak masyarakat beraktivitas khususnya berolahraga. Sehingga Chandra dan pedagang lainnya berharap ada keputusan konkret yang dihasilkan agar penataan kota dan keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat berjalan seimbang.
“Kami ingin ada jalan tengah antara penataan kota dan keberlangsungan usaha kecil. Kalau dipindahkan di tempat yang terlalu jauh siapa juga yang mau beli, ibaratnya kalau orang ditaruh jualan di hutan mungkin cuma monyet saja yang beli,” ucapnya, sembari melucu. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT