TARAKAN – Meski aksi kriminal dan kecelakaan lalu lintas cukup marak di Kota Tarakan, namun hingga saat ini masih minimnya CCTV yang terpasang di ruang publik. Sehingga hal ini menimbulkan pertanyaan apakah pemasangan CCTV belum dianggap prioritas oleh pemerintah daerah. Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (DKISP) Kota Tarakan turut mengakui jumlah kamera pengawas (CCTV) di wilayah Kota Tarakan masih terbatas dan belum tersebar merata.
Saat dikonfirmasi, Kepala DKISP Tarakan Endah Sarastiningsih menerangkan, hingga saat ini, CCTV baru terpasang di 29 titik, dengan sejumlah kendala teknis seperti ketersediaan listrik dan jaringan internet menjadi faktor utama lambatnya penambahan. Kendati demikian, dalam hal ini DKISP tidak menanggani langsung secara teknis CCTV melainkan wewenang tersebut berada di Tarakan Command Center (TCC).
"Sebenarnya untuk pengelolaan CCTV di Kota Tarakan berada di bawah TCC sebagai leading sector. Untuk pemasangan CCTV tidak bisa dilakukan sembarangan karena harus memperhatikan dua aspek utama, yakni ketersediaan arus listrik dan jaringan internet pemerintah daerah. Hal inilah yang menyebabkan sebaran CCTV belum merata di seluruh wilayah kota," ujarnya, Jumat (30/1).
“Tidak semua titik memiliki listrik dan internet yang terhubung langsung dengan jaringan pemerintah. Kalau belum ada, kami harus menyiapkan infrastrukturnya terlebih dahulu dan itu membutuhkan anggaran tambahan,” jelasnya.
Diungkapkannya, di tahun 2025 lalu Pemkot Tarakan menargetkan penambahan tiga titik CCTV. Dua di antaranya telah dipasang di kawasan Markoni, tepatnya di persimpangan dengan arus lalu lintas padat. Sementara satu titik lainnya di pertigaan Intraca hingga kini belum terpasang karena masih dalam tahap penentuan lokasi terbaik agar jangkauan kamera maksimal.
“Ketinggian pemasangan, sumber listrik, serta koneksi internet harus benar-benar diperhitungkan. CCTV-nya sudah siap, tapi pemasangannya masih terkendala teknis,” tambahnya.
Untuk tahun 2026, Pemkot berharap penambahan CCTV bisa direalisasikan melalui anggaran perubahan, meskipun di tengah adanya kebijakan pengurangan anggaran di sejumlah sektor. Salah satu skema yang tengah diupayakan adalah kolaborasi dengan RT melalui swadaya masyarakat.
“Kami ingin uji coba, minimal satu CCTV per RT di wilayah rawan, dengan pemantauan 24 jam yang terintegrasi dengan sistem kami,” jelasnya.
Keberadaan CCTV dinilai penting tidak hanya untuk mencegah tindak kriminal, tetapi juga untuk memantau kejadian kebakaran hingga mengantisipasi isu keamanan lainnya. Beberapa wilayah seperti Selumit Pantai bahkan telah diusulkan oleh DPRD untuk dipasangi CCTV, namun kembali terkendala akses internet yang belum tersedia.
“Kalau listrik masih memungkinkan, tapi internetnya memang harus kita siapkan sendiri. Ini yang jadi pertimbangan besar,” katanya.
Meski demikian, Pemkot Tarakan optimistis masyarakat akan mendukung pemasangan CCTV karena manfaatnya langsung dirasakan untuk keamanan lingkungan. “Pemasangan di tempat tinggi untuk mencegah pencurian juga jadi perhatian. Tapi pada prinsipnya, masyarakat pasti mendukung karena ini untuk keamanan bersama,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT