TARAKAN – Menjadi buah bibir saat pertama kali diluncurkan, kini program 112 Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan juga mulai jarang terdengar. Sehingga hal ini menimbulkan pertanyaan masyarakat apakah hingga saat ini layanan tersebut masih berjalan.
Saat dikonfirmasi, Kepala Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (DKISP) Tarakan Endah Sarastiningsi menegaskan, jika layanan darurat 112 di Kota Tarakan dipastikan masih aktif dan beroperasi hingga saat ini.
Diungkapkan Endah, dalam setahun terakhir jumlah laporan yang benar-benar darurat yang benar-benar membutuhkan bantuan tercatat masih relatif kecil dibanding total panggilan yang masuk. Diungkapkannya, dari rata-rata 1.000 panggilan yang masuk, hanya 30 persen atau 300 panggilan yang benar-benar meminta bantuan. Dan 700 panggilan lainnya merupakan panggilan berstatus prank dan ghosting.
"Ada laporan yang langsung ditindaklanjuti seperti permintaan ambulans, pasien, dan mobil jenazah. Ada juga laporan yang diteruskan ke instansi terkait seperti kebakaran, bencana, kepolisian, hingga gangguan hewan,” ujarnya, Senin (26/1).
Dijelaskannya, panggilan iseng ini bahkan memiliki klasifikasi tersendiri dalam sistem, seperti prank (panggilan bercanda) dan ghost (panggilan yang sudah terangkat tetapi penelepon diam). Fenomena ini meningkat signifikan saat masa libur sekolah, terutama pada Juni dan Desember.
“Dari grafik terlihat jelas, saat anak-anak libur sekolah, jumlah prank call meningkat. Rata-rata suaranya anak-anak, kemungkinan menggunakan ponsel orang tua,” ungkapnya.
Selain panggilan iseng, operator juga kerap menerima panggilan yang tidak berkaitan dengan layanan darurat, seperti meminta bantuan membuka kunci ponsel, mengajak ngobrol, hingga meminjam uang. Hal ini menuntut kesabaran ekstra dari para operator yang telah mendapatkan pelatihan khusus untuk memilah dan meneruskan laporan sesuai kebutuhan.
Dalam hal layanan nyata, permintaan yang paling banyak diterima adalah ambulans dan mobil jenazah, dengan rata-rata dua kasus per hari, baik untuk pasien sakit, persalinan, maupun meninggal dunia.
"Karena perilaku ini akhirnya adanya kendala teknis yang menyebabkan sebagian panggilan tidak sampai ke operator, mulai dari masalah sinyal, kesalahan penggunaan extension, hingga kendala operator seluler tertentu. Untuk itu, pihaknya telah bekerja sama dengan penyedia aplikasi Jasnita guna memperbaiki sistem dan memblokir nomor yang berulang kali melakukan prank call," urainya.
“Tahun ini kami fokus pada edukasi dan sosialisasi agar layanan 112 digunakan tepat sasaran, sehingga masyarakat yang benar-benar membutuhkan bantuan bisa terlayani dengan cepat,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT