TARAKAN — Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 2,9 mengguncang wilayah perairan Tenggara Pulau Tarakan, pada Kamis (15/1) dini hari. Peristiwa yang terjadi pada pukul 01.09 WIB tersebut dinilai tergolong gempa berkekuatan rendah dan tidak menimbulkan dampak kerusakan, namun menjadi pengingat bahwa Pulau Kalimantan tidak sepenuhnya terbebas dari potensi aktivitas seismik.
Saat dikonfirmasi, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan, Muhammad Sulam Hilmi menjelaskan, gempa tersebut berpusat di koordinat 2,38 Lintang Utara dan 119,30 Bujur Timur, dengan kedalaman hiposenter sekitar 4 kilometer. Kedalaman yang tergolong dangkal ini menunjukkan bahwa gempa dipicu oleh aktivitas tektonik di kerak bumi.
“Gempa ini memang kecil dan tidak dirasakan oleh masyarakat, tetapi tetap kami catat sebagai bagian dari aktivitas seismik di wilayah Kaltara. Berdasarkan pemantauan BMKG sepanjang tahun 2025, wilayah Kaltara telah mengalami ratusan kali kejadian gempa tapi gempa dalam kekuatan kecil yang tidak kita sadari," ujarnya, Kamis (15/1).
“Hampir setiap tahun selalu ada gempa. Biasanya skalanya kecil, seperti Magnitudo 2,3 atau 2,4. Informasi tersebut tetap masuk dalam catatan kami, meskipun tidak selalu dipublikasikan apabila tidak dirasakan oleh masyarakat,” sambungnya.
Diungkapkannya, jika besar kecilnya magnitudo gempa sangat bergantung pada energi yang dilepaskan akibat pergerakan atau tumbukan lempeng tektonik. Lempeng-lempeng bumi, termasuk Lempeng Eurasia yang memengaruhi kawasan Indonesia, terus bergerak secara alami untuk mencari posisi yang stabil.
“Indonesia berdiri di atas pertemuan lempeng-lempeng aktif yang tidak pernah diam. Dalam proses mencari keseimbangan atau kedudukan yang stabil itulah terjadi pelepasan energi, dan energi tersebut kita rasakan sebagai gempa bumi,” paparnya.
Menanggapi anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa Kalimantan merupakan pulau yang paling aman dari gempa bumi, Hilmi memberikan klarifikasi. Menurutnya, secara umum Kalimantan memang relatif lebih aman dibandingkan wilayah lain di Indonesia, namun bukan berarti sepenuhnya bebas dari risiko gempa.
Ia menggambarkan tingkat kerawanan gempa di Indonesia dalam beberapa tingkatan atau “kasta”. Kasta tertinggi, atau Ring 1, mencakup wilayah yang berada di jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) seperti Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, yang memiliki frekuensi gempa sangat tinggi. Kasta kedua, atau Ring 2, meliputi wilayah Papua, Ambon, dan Sulawesi. Sementara Kalimantan berada pada kasta ketiga atau Ring 3.
“Kalimantan berada di posisi terakhir. Artinya, potensi gempa tetap ada, tetapi frekuensinya paling jarang dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Tidak ada satu pun pulau di Indonesia yang benar-benar aman dari potensi gempa, karena keberadaan lempeng besar maupun lempeng-lempeng kecil yang bahkan belum semuanya terpetakan,” jelasnya.
Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat agar tidak panik menyikapi kejadian gempa berkekuatan kecil tersebut. Warga diminta tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana alam. Masyarakat juga diharapkan selalu memantau informasi resmi melalui kanal BMKG untuk memperoleh data dan pembaruan terkini terkait aktivitas seismik, khususnya di wilayah Kaltara.
“Informasi resmi sangat penting agar masyarakat tidak termakan isu atau kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT