Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Dinkes Tarakan Sempat Catat 3 Kasus Superflu, Ini Penjelasannya

Zakaria RT • Jumat, 9 Januari 2026 | 20:11 WIB
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tarakan, Rinny Faulina.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tarakan, Rinny Faulina.

TARAKAN — Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia dihebohkan dengan hadirnya virus A H3N2 atau yange lebih dikenal dengan superflu. Sehingga virus ini menimbulkan kekhawatiran apalagi terdapat kasus penderita yang meninggal dunia.

Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan, Rinny Faulina menjelaskan, jika penyakit yang dikenal di masyarakat sebagai superflu ternyata sudah pernah masuk ke Kota Tarakan sejak akhir 2025. Ia membeberkan, Dinkes Tarakan mencatat tiga kasus influenza tipe A dengan gejala berat, namun seluruh pasien dipastikan telah sembuh.

"Sebenarnya itu jenis flu tipe A, istilah superflu adalah sebutan masyarakat bukan istilah dari medis. Untuk influenza A memamg menimbulkan gejala lebih berat dibanding flu biasa. Karena demamnya bisa tinggi, sampai 39 bahkan 41 derajat, disertai nyeri badan, sakit kepala dan badan meriang,” Jumat (9/1).

"Tiga kasus itu terdeteksi pada November 2025. Sampel pasien dikirim ke laboratorium rujukan di Banjarbaru, dan hasil pemeriksaan baru keluar sekitar dua pekan kemudian. Waktu hasil lab keluar, pasiennya sudah sembuh. Alhamdulillah sampai saat ini belum ada temuan kasus baru," sambungnya.

Meski tidak ditemukan kasus di tahun 2026, ia menegaskan jika hal tersebut tidak membuat Dinkes Tarakan lengah. Diungkapkannya, influenza A memiliki tingkat penularan yang cepat dan sering kali tidak disadari karena gejalanya mirip flu biasa. Selain itu, ia membeberkan jika virus tersebut dapat menyebabkan kematian.

“Banyak yang menganggap cukup istirahat atau minum air hangat, tidak periksa ke fasilitas kesehatan. Ini yang membuat kasus bisa tidak terdeteksi. Yang rawan adalah kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit penyerta berisiko mengalami kondisi yang lebih berat bila terinfeksi. Kalau imunitasnya rendah, dampaknya bisa serius, hampir mirip situasi Covid-19 dulu,” jelasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#tarakan #dinkes #superflu