Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Pedagang Harapkan Pemerintah Kontrol Peredaran Ayam Beku di Tarakan, Ini Alasannya

Zakaria RT • Jumat, 12 Desember 2025 | 18:01 WIB

 

JADI POLEMIK: Pedagang daging ayam lokal harapkan pemerintah daerah mengontrol peredaran ayam beku di Kota Tarakan.
JADI POLEMIK: Pedagang daging ayam lokal harapkan pemerintah daerah mengontrol peredaran ayam beku di Kota Tarakan.

TARAKAN - Harga daging ayam diklaim belum mengalami kenaikan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), yakni Rp 45 ribu perkilogram. Meski diklaim normal, namun sejumlah pedagang mengeluhkan semakin berkurangnya antusias masyarakat membeli daging ayam potong segar. Pedagang menduga menurunnya minat beli terhadap daging ayam segar dipengaruhi oleh kehadiran ayam beku yang harganya jauh di bawah harga daging ayam lokal. Hal itulah yang diungkapkan Hasna, salah satu pedagang ayam potong lokal di pasar tengguyun.

Hasna berujar, setidaknya dalam satu tahun terakhir peminat daging ayam lokal semakin menurun. Ia mengakui, sebagian masyarakat mengaku memilih membeli ayam beku lantaran harganya yang lebih murah. Bahkan kata dia, beberapa pelaku usaha makanan yang menjadi pelanggannya pun telah beralih menggunakan ayam beku sebagai lauk.

"Sekarang sepi tidak seperti dulu. Kalau dulu bisa kita jual sekitar 100 sampai 120 kg satu hari. Sekarang 60 kg saja sudah berat. Ada beberapa pelanggan saya dulu sekarang sudah pindah pakai ayam beku untuk usaha makanannya. Kami tidak mau menyalahkan juga, sama-sama cari makan, tapi kalau bisa Pemerintah mengatur (peredaran) ayam beku di Tarakan," ujarnya, Jumat (12/12).

"Karena sekarang di mana-mana ada jual ayam beku. Di supermarket, di toko biasa bahkan di kapal laut pun ada dijual dengan harga di bawah ayam lokal. Mungkin karena setiap toko ada jadi orang tidak perlu lagi ke pasar untuk beli ayam. Apalagi harganya murah," sambungnya.

Sementara itu, salah satu pedagang ayam beku , Andita menerangkan, jika dirinya cukup bersyukur semakin banyak peminat ayam beku. Menurutnya kehadiran ayam beku cukup membantu masyarakat untuk mendapatkan daging ayam kualitas yang baik dengan harga lebih murah. Namun menurutnya, sejauh ini baik ayam beku maupun ayam lokal memiliki peminatnya masing-masing. Sehingga kata dia, Kehadiran ayam beku dinilai tidak menganggu pemasaran ayam lokal.

"Alhamdulillah cukup banyak peminatnya. Mungkin karena ayam beku lebih praktis, sudah terpotong dan sudah bersih. Tinggal dicuci sedikit saja bisa langsung dimasak. Harganya pun lebih murah dari ayam lokal tergantung merk-nya saja. Ada yang harga Rp 35 ribu sampai 43 ribu per kilogram," urainya.

"Ayam beku ini kan dari dulu sudah ada, dan hadirnya ayam beku cukup membantu memenuhi kebutuhan masyarakat. Saya rasa ayam beku dan ayam lokal masing-masing punya peminatnya. Jadi kami merasa sama sekali tidak menyaingi pedagang ayam beku tapi sebagai pilihan (alternatif) masyarakat," pungkasnya.(zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#tarakan #kaltara #ayam